[Review] Coastal Scents GO Palette : Beijing

Image

 Here I am, back with eye shadow palette review again! 😀

I always wanted to own Coastal Scents palette, ’cause I’ve read everywhere that Coastal Scents always get very good review. But I think having 88 eye shadow palette is too much for personal use, and remind useless until it reached the expiry date, yet the packaging is too bulky and not travel friendly. This is why I always avoid buying big eye shadow palette. Then I found this palette which is very compact, lightweight, and travel friendly. If you’re travel a lot, I recommend you to have this palette, ’cause the palm-size packaging will go with any purse size, even the small one. 🙂

Image

 I find it interesting about these eye shadow series, Coastal Scents have brilliant idea about inventing 12 colors eye shadow palette, and each palette has its own theme and named by cities around the world, there are: Cairo, Beijing, London, Paris, Moscow, Sidney, and Nuuk. Every colors combination on each palette represents the dominant colors that describes the name of the city. From all of those palette, I have chosen Coastal Scents GO Palette : Beijing, I was in 2 option between Cairo or Beijing, but then I go for Beijing ’cause I have already too much neutral color palette (like in Cairo), and I love the color combination of this palette that have dominant rosy-pink and mauve shade, but still wearable for daily make-up. Somehow it reminds me about some shades on the new Naked 3. I choose Beijing ’cause I also read some review before, and said this palette has the best pigmentation among all the GO Palette series.

This palette came with “traveler” theme packaging, there are maps in the front side (different maps each palette), and compass in the back of the card box. The GO Palette lettering also interesting cause there’s a globe on it. This palette also came with lightweight black plastic , and huge mirror, but too bad no eye shadow applicator. It would be perfect if this palette also has applicator on it.

Image

The texture of all these 12 eye shadows are creamy, pigmented, and I can swatch them easily. Even though some colors contain micro glitter, I don’t find any problem with flakey or powdery texture. All these color also showed up very well on my medium-dark Asian skin. Too bad I can’t find any matte eye shadow here, all are satin finish, shimmer, and contain micro glitter. If you’re a big fan of matte eye shadow, then this palette is definitely not for you. 😀 But I think it’s not a major problem since this palette has some deep shades that  very pigmented and effective to define the crease, outter V, or use as liner along your lower lash line.

Image

Pros: compact size & lightweight, travel friendly, came with big mirror, great pigmentation.

Cons: came with no applicator, no matte color.

Have you tried any Coastal Scents GO Palette, Ladies? Which one is your favorite? 😉

Tips Traveling ke Negara 4 Musim – Autumn/Winter

Packing. Hal paling penting yang harus dilakukan sebelum kita traveling adalah? Packing. Ada orang yang punya kebiasaan nyicil packing sejak jauh-jauh hari, ada juga orang yang (saking seringnya traveling dan udah jago, biasanya) suka packing dadakan beberapa jam sebelum berangkat. Apapun kebiasaan packing Anda, tentunya bisa berabe kalau sampai ada barang yang tertinggal. Apalagi kalau perginya ke luar negeri dan barang yang ketinggalan tersebut penting dan susah dicari di sana, atau harganya lebih mahal. Sayang banget kan, kalau budget untuk jalan-jalan termakan buat beli-beli barang yang ketinggalan. Biasanya untuk menghindari barang-barang yang tertinggal, banyak orang yang kalau packing udah kayak mau pindahan rumah. Semua-semua dibawa, akhirnya bagasi overload, dan keluar duit lagi buat bayar.

Nah, gimana cara menyiasati packing yang efisien? Kalau perginya jauh ke luar benua gimana? Apalagi kita cewe, barang bawaannya nggak bisa sedikit dong. Kali ini saya mau share siasatnya agar bagasi kita tetap aman tanpa overload sejak pulang-pergi. FYI, jatah bagasi per orang biasanya antara 20-25 kg, beda-beda tergantung maskapai penerbangannya. Selama ini tiap saya pergi ke Eropa, berat koper berangkat selalu berkisar antara 15-16 kg, pulangnya paling poll sekitar 18 kg. Untuk tips yang mau saya share kali ini kebetulan adalah tips untuk traveling pada saat autumn/winter ke negara 4 musim. Check this out! 🙂

1. Basic autumn/winter outfit yang wajib di bawa:

tips-traveling-eropa-01

Coat/Trench coat: Pilih yang bahan yang cukup tebal, dari wool/leather/faux leather. Pilih 1 size lebih besar, karena kalau dingin biasa suka dobel-dobel pakai bajunya

Shawl/Scarf: Ini penting banget buat hangatin leher kita.

Boots: Pilih FLAT boots. Seriously. Karena untuk vacation, nantinya kita akan banyak jalan kaki. Silakan aja sih kalau mau pakai boots yang ber-heels/wedges. Tapi kalo nanti pegel atau lecet terus kenyamanan traveling jadi terganggu, nggak tanggung yah. Lagian nggak bisa nyeker juga, kan dingin. :p Disarankan pilih boots yang bahan leather/faux leather, biar kalau kena hujan aman. Boleh sih pakai bahan suede semacam UGG boots (saya juga suka pakai ini, cewe-cewe di Ceko & Belanda banyak yang pakai ini sehari-hari), karena lebih hangat. Asal kalau basah/kena air harus buru-buru dikeringin ya, pakai hair dryer bisa kok. 🙂 Oh iya, pastikan sole boots kamu terbuat dari lapisan karet non-slip yang bagus. Saya pernah punya pengalaman pakai boots murmer (150 ribuan) buatan lokal, terus pas kebetulan ketemu salju, duh slippery banget rasanya. Bukan under-estimate ke semua local product ya, cuma harus hati-hati pilih sepatu aja IMHO. Boots bisa juga disiasati beli di tempat tujuan (asal sempat & ada waktu luang untuk belanja), sepatu model-model serupa UGG bisa dibeli dengan harga sekitar € 4-8. (Saya pernah beli yang lagi sale, € 2.5 atau 35 ribuan saja :D)

Earmuff: Sekalipun musim gugur, kadang udara dinginnya kebangetan, sampai bikin telinga jadi sakit dan kaku. Untuk itu earmuff diperlukan agar telinga kita tetap hangat.

Gloves: Pilih bahan knit atau kalau mau nggak cepat kotor pakai bahan leather/faux leather.

DOs: Bawa baju secukupnya, hitung betul-betul berapa banyak kesempatan kita buat ganti baju.

DON’Ts: Untuk cuaca yang dingin hindari jeans, karena jeans menyerap kelembaban dan bakal bikin kaki kita tambah dingin. Kalau mau pakai jeans, bisa didobelin legging atau long john.

Selanjutnya, pada saat kita sudah sampai tujuan, dan siap jalan-jalan serta menjelajah. Ada barang-barang yang WAJIB pake BANGET harus kita bawa kemana-mana.

2. Barang-barang yang wajib ada di tas kita sewaktu jalan-jalan:

tips-traveling-eropa-02

Water tumbler/botol minum: Ini kalo kata pak ustadz hukumnya “fardhu’ ain”. Kenapa? Air minum di luar negeri mehong cyiiin! Alias mahal, bahkan harga beer kaleng lebih murah daripada air mineral botol. Parahnya lagi, biasanya air mineral di luar negeri ada soda-nya, atau kalau nggak, ya ada aroma bunga yang aneh-aneh gitu. Mirip air dari dukun deh rasanya hahaha. Mending isi botol kamu pakai tap water/air kran (air kran biasanya sangat bersih dan bisa langsung diminum). Bawa jalan-jalan. Kalau habis? tinggal cari kran terdekat, terus refill deh! 😉

Personal medicine/obat-obatan pribadi: Sebelum melakukan perjalanan jauh, nggak ada salahnya check-up ke dokter. Obat-obatan pribadi ini wajib banget dibawa apalagi buat yang punya penyakit khusus atau kambuhan asthma/maag/alergi tertentu. Buat yang nggak punya penyakit khusus, bawa obat-obatan yang basic, seperti obat flu, obat pusing/pereda nyeri, obat anti mabuk, obat batuk, dan anti biotik. Yang Indonesia banget nih, bawa sirup anti masuk angin, atau minyak kayu putih/aroma theraphy.

Tissue/wet wipes: Jangan mentang-mentang ke luar negeri, negara maju, terus kita berpikir bahwa semua toilet/WC umum di sana bersih ya. Sama sekali enggak. Di luar negeri banyak juga toilet/WC umum kotor yang bau pesing. Selain itu, paper towel di luar negeri nggak sebagus yang dipakai di Indonesia lho. Mereka paper towel-nya terbuat dari kertas daur ulang warna abu-abu dan kasar banget, and all dry toilet. Nggak ada shower. Buat orang Indonesia yang sebagian besar masih terbiasa bersih-bersih dengan cara basah/pakai air, disarankan bawa tissue/wet wipes sendiri setelah memakai toilet/WC umum. 🙂

Mouth mask/masker mulut: Ini penting kalau misalnya tiba-tiba di sana kita tidak bisa langsung beradaptasi dengan iklim setempat, biasanya kita akan terserang flu ringan dadakan. Ini penting banget dipakai supaya kita nggak menulari tetangga kiri-kanan. Selain itu masker mulut ini bisa menjaga agar daerah di seputaran mulut/hidung kita tetap hangat. Kadang kalau nggak tahan dingin ada yang suka mimisan (saya contohnya, haha) so, better safe than sorry. 🙂

Camera: Jangan sampai nyesel kehilangan moment penting pada saat jalan-jalan karena kamera tertinggal di hotel. Pastikan baterai juga terisi penuh. Cek juga setiap saat, terutama saat melalui daerah yang penuh turis, karena dipastikan di sana penuh copet juga. Waspadalah, waspadalah!

Sunnies/kacamata: Untuk menghalau sinar matahari dan bikin kita *ehem* makin keren pastinya.

Passport/ID: Ini jangan sampai ketinggalan, karena jika kita nanti ada urusan penting, tanpa ini kita tidak akan dilayani. Dijaga juga jangan sampai hilang, kalau hilang di luar negeri, ngurusnya lebih ribet lagi nanti.

Gadget: Jangan lupa update selalu ke socmed tentang perjalananmu, share lokasi wisata yang keren, makanan yang enak dll. Make sure your cell phone/tablet fully charged!

Money/uang: Terutama siapkan uang kecil, jangan bawa uang banyak-banyak. Perhitungkan berapa kira-kira pengeluaran dalam satu perjalanan. Uang yang belum terpakai sebaiknya ditinggal di hotel saja, beberapa hotel biasanya dilengkapi dengan brankas kecil, uang/barang berharga lainnya bisa disimpan di sini. ini menolong kita buat nggak boros lho. Atau lebih baik bawa kartu kredit. Kenapa banyak orang Asia yang sering kecopetan di luar negeri? Karena kebiasaan orang Asia suka bawa duit banyak, while orang bule lebih suka bawa kartu kredit.

Make up: Bawa make up yang penting-penting aja, seperti lip balm, bedak, parfum dan sisir. Bawa yang TRAVEL SIZE, biar nggak makan tempat di tas.

DOs: Untuk tas, sebaiknya pilih tas selempang dengan ukuran sedang (kurang lebih seukuran postman bag cukup untuk semua barang-barang di atas). Pakai tas selempang kamu sebelum memakai coat, jadi posisi tas ada di dalam, dan pastikan posisi tas selalu berada di depan kamu. Hindari mengeluarkan gadgets di tempat yang terlalu crowded. Kalau mau update hasil bebancian kamera di sosmed, tunggu sampai kita ada di tempat yang cukup aman. Beware of pickpockets! 😀

DON’Ts: Membawa tas terlalu kecil dan lebih dari  satu, ribet dan nggak efisien.  Usahakan selalu cek currency atau living cost di negara tujuan. Cari tahu beberapa harga barang yang penting, seperti tiket transportasi umum, makanan dll. Jangan membawa uang berlebihan atau memakai barang/perhiasan yang berlebihan/mencolok. Nggak di Indonesia, nggak di luar negeri, di mana-mana. Hal ini selalu mengundang kejahatan.

3. Selanjutnya…ini dia, barang-barang lenongan kita sebagai cewe yang sekiranya wajib di bawa pas bepergian ke negara 4 musim. Sekali lagi, pastikan semua barang-barang di bawah ini adalah yang TRAVEL SIZE. 🙂

tips-traveling-eropa-03

Brush set: Bawa yang isinya 5-7 pcs saja, dan size-nya kecil. Keep everything in TRAVEL SIZE! 😀

Face moisturizer: Bawa face moisturizer yang kadar moisturizer-nya sesuai dengan kebutuhan jenis kulit kamu. Negara 4 musim biasanya kondisi udaranya kering pada saat autum/winter. Untuk kulit kombinasi/berminyak seperti saya sih nggak gitu ada masalah. Malah minyak produksi minyak di wajah berkurang, pori-pori mengecil dan kulit jadi lembab dan normal, nggak ada skin break out sama sekali. Horeee! Tapi tetep perlu pakai moisturizer sih. Dan buat yang punya kulit kering, biasanya abis ngeluyur seharian aja rasanya muka berasajadi kaku, terus besoknya mengelupas, makanya face moisturizer diperlukan banget. 🙂

Body butter/lotion: Fungsinya sama dengan face moisturizer, mencegah kekeringan di kulit tubuh.

Lip balm: Fungsinya masih sama, mencegah kekeringan yang menyebabkan bibir pecah-pecah. Dengan menggunakan lip balm setiap hari, bibir kamu akan selalu lembab. 🙂

Make-up palette: Bawa palette kecil dengan warna-warna “aman” aja, kecuali kalau di sana mau ada photoshoot, atau acara resmi yang mengharuskan dandan heboh. Kalau bisa bawa all-in-one palette. Eyeshadow, blusher, powder jadi satu. 🙂

Hair styling tools: Jika kamu berencana menginap di budget hostel, biasanya mereka nggak menyediakan hair dryer, jadi perlu bawa yang TRAVEL SIZE. Bawa catokan rambut bila perlu. Ada baiknya cari tahu dulu bentuk colokan listrik di negara tujuan seperti apa.

Bobby pins & hair bands: Senjata pamungkas di kala bad hair day, atau untuk menyelamatkan hair-do yang mendadak berantakan saat menghadiri acara penting.

DOs: Pastikan semua peralatan lenongan alias make-up dalam TRAVEL SIZE!

DON’Ts: Jangan bawa peralatan make-up berlebihan, selain makan tempat, peralatan make-up rawan sekali rusak (pecah, atau leleh). Kalau terpaksa harus bawa, taruh di kabin. Sayang kan kalau sudah beli palette mahal-mahal malah pecah/ancur berantakan cuma karena kurang wise packing saat traveling. 😉

Sekian dulu traveling tips kali ini. Sampai jumpa di tips-tips lainnya. Happy packing & traveling, jangan lupa oleh-oleh yaa…Bye! 😀 *lambai-lambai sapu tangan*

Exploring Prague: Tempat Paling Wajib Dikunjungi di Eropa

Ahoj!

37959_1600779574825_5798653_n

Kali ini saya mau cerita pengalaman traveling saya yang pertama kali ke Eropa. Yaitu ke Praha, tepatnya 3 tahun lalu. Saya pergi ke Praha bareng teman-teman dari Airlangga University Choir, kebetulan waktu itu mau mengikuti Praga Cantat choir competition. Sebenernya kami nggak sendirian yang berangkat dari Indonesia, ada juga teman teman dari paduan suara Universitas Padjajaran-Bandung dan BINUS-Jakarta. Rame kaaan? tapi berangkatnya tetep sendiri-sendiri sih, hehehe…

Ceritanya waktu itu yang paling heboh buat preparationnya, bingung pengen beli coat, beli boots, beli earmuff, beli gloves etc…norak ya? Soalnya emang belom pernah punya dan pengalaman pergi ke negara 4 musim…selain itu pengen gaya juga sih hahaha. Jujur aja, seperangkat anget-angetan ini vital banget buat saya, soalnya saya sendiri punya alergi dingin, kadang kalau kedinginan suka tiba-tiba biduran, bruntusan, gatel-gatel. Hiks. So, I really have to keep my body stay warm all the time. Tips-tips traveling untuk first timer ke negara 4 musim bakal saya share di postingan yang terpisah nanti ya…sekarang fokus ke cerita tentang Praha dulu. So, stay tuned! 😉

Sebelum berangkat, saya sempetin buat browsing-browsing tentang Praha, dan dari info-info yang saya dapat, walaupun Ceko ini termasuk Schengen Zone, tapi untuk mata uang mereka belum pakai Euro, masih pakai Crown/Koruna/Czk, yang kurs-nya aje gile murah 1 Czk = Rp. 500. Asikkk, gak bikin kantong bolong. Selain itu, Praha ini terkenal sekali kastil-kastil dan bangunan bernuansa gothic (bukan…bukan Zaskia gotik ya! :p), juga terkenal dengan wine-nya. Katanya sih Praha ini emang penghasil wine terbesar di Eropa lho. Saya buktikan begitu sampai di sana…kulkas kamar hotel saya sendiri sudah terisi bermacam-macam alkohol instead of soft drink, dan wine-nya sendiri ada 4 botol. Woo hoo! !

czech-wine

(left to right: Czech Wine – Czech Wine – London Dry Gin – Findland Vodka – Irish Whisky – Czech Beer – Czech Wine)

74273_1600780694853_4538911_n

(Cheers baby! malam sebelumnya sudah minum sebotol wine juga gratisan dari Emirates. :D)

Beberapa hari pertama di Praha di habiskan untuk fokus ke persiapan kompetisi sih, yah ada jalan-jalan dikit juga…nyobain metro, secara seumur hidup belum pernah naik kereta bawah tanah. Kebetulan 500 meter dari hotel ada subway, nyoba lah saya. Awalnya bingung gimana ini sistem transportasinya, gimana cara beli tiket dari ticket machine, dll. Untungnya, yang namanya selebaran/peta tersedia gratis di mana-mana…di hotel, supermarket, atau di subway itu sendiri. Ini foto saya di depan subway Invalidovna…

praha-invalidovna

Di Praha ini metronya terbagi atas 3 jalur, ada Metro A, Metro B, dan Metro C. Kebetulan Invalidovna ada di jalur Metro B. Intinya kita mesti rajin-rajin lihat peta aja kalau mau pergi ke tempat tertentu, lihat-lihat tempat tujuan kita itu ada di dekat jalur metro yang mana. Contoh, kalau mau pergi ke daerah yang ada Metro A, maka saya harus turun di subway transit dari B ke A untuk ganti kereta. (semua keterangan lengkap ada di peta, jadi mudah dimengerti).

Selama di Praha saya nggak pernah kedapetan metro yang pas sepi, rame terus…nyaris nggak pernah dapet tempat duduk, jadi nggak bisa fotoin gimana bagian dalam metronya. Untuk tiket metro biasanya saya beli yang 24 jam-an 100 Czk, atau Rp. 50.000. Ada beberapa perbedaan tarif untuk manula, hewan peliharaan, dan orang-orang yang bawa wheel chair/sepeda lipat. Tarif khusus tersebut diberlakukan soalnya biasanya yang bawa hewan peliharaan/wheel chair/sepede itu makan tempatnya suka nggak kira-kira. Terutama yang bawa hewan peliharaan, bener-bener makan tempat. PAKE BANGET.  Beberapa kali di Praha nemu orang bawa anjing Siberian Husky gede banget di dalem metro. Gedenya 2x badan saya. Ini anjing beneran apa siluman…apa anjing ngepet…bahahaha! Asli segede Jacob pas jadi serigala, mau duduk di sebelah si anjing tapi malah ngeri sendiri takut dicaplok. Dan beberapa kali liat orang jalan-jalan bawa anjing gede lainnya. Sepertinya orang di Praha suka sama anjing yang gede. Tapi saya sempet foto di dalam metro sekali sih. Kurang lebih interior-nya seperti ini…

metro-praha

Oh iya, subway di Praha ini termasuk dari 7  stasiun bawah tanah terindah di dunia lho…on the spot Trans 7 juga udah pernah nayangin :-P. terutama Metro A. Interiornya bagus dan warna-warni, beda-beda tiap stasiun pokoknya. tapi lagi-lagi rada susah banget diambil fotonya, secara subwaynya crowded terussss…tapi sempet foto sekali di subway Namesti Miru pas sudah hampir jam 9 malam, agak sepi. Pas banget kebetulan Namesti Miru ini subway favorite saya, warna dinding terowongan-nya perpaduan antara biru metalik & gold! Love it! :*

namesti-miru-praha

Soal makanan di Praha saya nggak terlalu rewel sih, selain tetep bergantung kepada makanan pokok orang Indonesia pas traveling, yaitu Pop mie, di Praha juga terdapat restoran masakan Indonesia, namanya Java Restaurant, chef-nya asli orang Jawa, interior-exterior restoran-nya pun bernuansa Jawa yang kental, ada patung-patung, dan seluruh mejanya bertaplak kain batik. Makanannya? jangan ditanya lagi…yummy! Konsep restoran ini buffet atau all-you-can eat. Makananya macem-macem, kebetulan pas saya mampir ke sana ada Soto Ayam, Sate Ayam, Sayur Lodeh, Oseng-oseng, Perkedel Jagung dll. lengkap dengan kerupuk dan sambalnya. Tak lupa, nasi putih pulen. Untuk snack-nya ada lumpia semarang dan pastel. Harganya 160Czk, atau sekitar Rp. 80.000/pax. Mahal? ya nggak sih, malah lebih murah dari restoran Jepang all-you-can eat terkemuka di Indonesia. Lagian harga segitu worthed banget untuk mengobati rasa kangen sama tanah air, dan yang paling penting HALAL! Jadi nggak perlu insecure lagi soal makanan, terutama buat kalian-kalian yang strictly halal food-minded. 🙂 Duh, bodohnya pas di restoran nggak sempet fotoin makanannya pas masih belom dimakan, karena buru-buru pakai numpang ganti kostum segala di sana. Adanya juga ini, foto pas makanannya udah dimakan sama besoknya dapet katering makan yang ternyata menunya dapet dari resto ini…Horeee!

java-restaurant-praha

40151_1606680562346_3628537_n

(Sambel, lalapan mentimun, nasi pulen ditabur bawang goreng, serundeng kelapa…Indonesia banget! P.S: Sendoknya modal abis…bukan sendok bebek/plastik kayak nasi kotak di sini. Boleh diambil. :D)

Besoknya makan makanan Indonesia lagi di KBRI Praha…kali ini rame-rame bareng temen-temen Unpad dan Binus juga. Makanannya banyak, ada rendang…favorite saya, dessert-nya juga enak, dan pastinya gratissss! Kami datang berbatik-batik pula…rasanya udah kayak lagi di kondangan hehe.

Long story short, kami menang kompetisi di 2 kategori, plusss special award untuk choir with The Most Scenic Choreography…2 paduan suara dari Indonesia lainnya juga menang lho. Pokoknya Indonesia membahana deh, semua juara diborong sama Indonesia! Cihuy! 😀 Kebetulan juga waktu itu kita dapat fasilitas mengunjungi beberapa tempat wisata di Praha dari panitia kompetisi, plusss guide-nya juga. Tujuan utama sih Prague Castle, Karluv Most (Charles Bridge) salah satu lokasi syuting film jepang Nodame Cantabile, Old Town Square, dan Astronomical Clock. Tempat-tempat di tersebut free entrance ya (waini yang penting…mental gratisan detected! :-p), alias nggak pakai tiket. Yang pakai tiket palingan kalau masuk-masuk ke museum. Di Praha terdapat banyak museum, termasuk yang unik seperti Barbie museum atau bahkan Sex Machine museum. Ini foto-foto yang diambil dari beberapa tempat yang saya kunjungi…

prague-castle-01148148_1606663281914_2385967_n

76893_1606666882004_4610248_n

(atas: Prague Castle gate, 2 bawah: dalemnya Prague Castle, ternyata dalemnya masih ada gedung-gedung lain, restoran, wine bistro & museum…tapi nggak saya masukin semua, soalnya bayar! Hahaha…palingan nyobain Hot Wine doang…tapi meh, aneh banget rasanya mirip rebusan tape ketan item. -.-“)

karluv-most-01

karluv-most-02

(kedua foto ini diambil di Karluv Most/Charles Bridge tempat syuting film Nodame Cantabile. Di Karluv Most banyak wisatawan, tapi pengemis banyak juga…hahaha :-p Foto patung Yesus disalib diatas kurang tau juga apa ngaruhnya buat orang Ceko, secara di sana sebagian besar penduduknya adalah komunis…dan juga atheis, gereja yang aktif hanya sekitar 25%, 75% persen bangunan gereja lainnya dijadikan obyek wisata! 🙂 )

astronomical-clock-praha

(The Astronomical Clock)

odl-town-square-praha

(Me at Old Town Square…crowded pemirsaaa!)

sex-machine-museum-praha

(bagian dalam Sex Machine museum…isinya? hmmm…bisa dikira-kira dari namanya sendiri lah…hihihi)

barbie-museum-praha

(Barbie museum, isinya Barbie *ya iyalah! menurut eL?* …lokasinya terletak di dalam Prague Castle…selain di Praha, Barbie museum ini juga ada di Munich, Jerman 🙂 )

Sebelum pulang nggak lupa belanja oleh-oleh dulu di pasar tradisional di Mustek. Harga di Praha pokoknya semua murah…kemarin sih budgetnya buat jajan, jalan-jalan, dan oleh-oleh 2-2,5 juta rupiah. Itu pun masih ada kembalian dikit. Terus nih, pas lagi asik-asik belanja eh…ketemu sama musisi kenamaan Indonesia: Om Erwin Gutawa. Kebetulan waktu itu beliau sedang menggarap musik bersama Prague Philarmonic Orchestra. Kalo nggak salah sih buat musikal Laskar Pelangi. Pulangnya ketemu  lagi sama Om Erwin, satu pesawat pula. Acara di pasar malah sempet berubah jadi jumpa fans dadakan, abis semua pada minta foto, hihihi…noraknya teteup! 😀

75085_1608495207711_5963979_n

Kesimpulannya, Praha ini tempat di Eropa yang paling cocok dikunjungi buat first timer dan low budget traveling. Soalnya sampai detik ini saya belom nemu lagi tempat di Eropa yang living cost-nya lebih murah dari Praha. Sampai jumpa di postingan berikutnya yaa…maaf kalau di postingan yang ini fotonya banyak yang nggak penting! Maklum baru pertama ke Eropa, jadi kerjaannya foto melulu…

Ciaoo! 😀

Yang Wajib di Belanda: Foto Pakai Baju Tradisional Belanda | Nggak sempet ke Volendam? Ini solusinya!

dutch-clogs

Yayy! Kesampaian juga akhirnya pake kelompen tradisional Belanda. ternyata enteng banget dipakainya…tapi tetep gak bakal beli, minjem-foto-cukup. Pelit dot com. (Karena sebenernya terlanjur beli boots beberapa hari sebelumnya, jadi beli sepatu stop dulu!)

Dan juga ceritanya hari ini Halloween dan sadly, my last day in Holland. So, Saya hari ini harus memaksimalkan yang namanya exploring Amsterdam, and since I’m maps-illiterate, I asked someone to accompany me exploring Amsterdam. Please welcome, Nindy!

Tujuan pertama hari ini adalah kawasaan Dam Straat, yaitu Madame Tussaud museum, tapi berhubung antrean masuknya udah kayak kerumunan nontonin orang lagi digebukin, saya mengurungkan niat. Jadilah langsung menuju ke plan B, yaitu foto pakai baju tradisional Belanda. Sebenernya ada serombongan teman yang pergi ke Volendam cuma buat foto, tapi buat saya sih efisiensi waktu aja, cari yang deket dan ada diskonnya. Kebetulan hostel tempat kami menginap menyediakan kartu diskon untuk berfoto di tempat ini. Studio fotonya kecil, tersembunyi di balik kerumunan orang-orang yang lagi antre untuk masuk ke Madame Tussaud. Saya dan Nindy melipir-melipir layaknya orang cari alamat…antara ‘ngeuh’ dan nggak ini beneran photo studio apa panti pijet.

Akhirnya kami disapa oleh wanita berambut ikal+pirang, cantik, usianya mungkin 35 tahun maksimal. Ternyata dia fotografernya…hihihi, pertanyaan pertama dari beliau adalah “Are you from Java?” ih…beneran ya muka emang nggak bisa bo’ong. Jawa banget muka saya. Terus dia jelasin kalau studio-nya emang baru aja buka jam segini, dan dia harus beberes beberapa display yang biasa ditaroh di depan studio-nya buat penanda ini beneran studio, biar orang nggak celingak-celinguk cari studio kayak kami berdua.

Setelah nunggu beliau beberes 10 menitan, beliau memandu kami ke lantai 2 tempat kecil itu. Dan ternyata lantai 2 nya luas lho. Koleksi baju-bajunya juga banyak, ada yang modern, ada yang tradisional. Beliau memandu saya untuk sizing baju dan sepatu, buat ukuran bule, saya pakai dress size M, dan sepatu size 38. Akhirnya saya milih baju a la Milkmaid (kostum logo susu kental manis Cap Nona) berwarna merah-putih-biru, karena baju ala Farmer yang biasa berwarna hitam kurang cocok buat saya. Setelah ganti baju, proses foto pun berlangsung. Beliau ngarahin gayanya enak banget, mungkin karena emang udah kerjaannya kali ya haha, santai, lucu, dan detail banget, nggak cuma gaya yang dikoreksi sama beliau, tapi juga lengan baju, rok, sepatu dll harus terlihat bagus di kamera. Kira-kira hasilnya seperti ini…

Image

Image,

Image

(Akhirnya kesampaian pake kostum ginian pagi hari, secara malamnya gak mungkin bisa ikut Halloweenan karena mesti packing buat balik kandang…)

Biaya foto 11.50 euro included: cetak foto 10 R, soft copy file photos all pose, dan sewa kostum. Murah sih! Daripada ke Volendam, gak pake ongkos transport pula, karena pas berangkat ke Dam Straat kedapetan tram yang out of order mesin validasi tiketnya…jadi nggak pake bayar. Hahaha. Sebenernya Saya dan Nindy ditawarin diskon kalo mau foto berdua, sama si fotografernya lho, secara kami ini penglaris, alias klien pertama yang datang hari itu. Tapi si Nindy-nya gak mau. Bersyukur ada klien selanjutnya, jadi sementara si fotografer sibuk memandu klien yang baru datang, si Nindy curi-curi foto dapet minjem kostum Milkmaid a la lollita yang pendek. Aww…sexy! :p

Image

Setelah cabut dari studio foto, saya dan Nindy jalan-jalan menyusuri Dam Square sambil ngabisin duit (dih…sok kaya!) maksudnya ngabisin budget yang tersisa yang memang dialokasikan buat oleh-oleh, ngasi makan burung dara, terus jalan-jalan ke Albertcuypstraat Market, beli keju Gouda daaaaaan…lagi-lagi saya beli boots! Pfff. Modelnya mirip “Ugg”, tapi harganya cuma 2,5 euro. Ini serius. Last stock in store.

Image

(My 2.50 euro “Ugg” boots & 10 euro knitted winter legging from Albertcuypstraat Market)

Tujuan terakhir ubek-ubek Amsterdam hari ini adalah Albert Heijn, beli snack segala macem yang nggak ada di Indo dengan sisa uang yang ada buat oleh-oleh. Sampe hostel hampir jam 7 malam, lanjut packing dan langsung tepar…dilanjut berangkat subuh ke Amsterdam Central dan bertolak ke Schiphol…huhuhu da daaagh Holland! I can’t wait to come back! 😦

Warsaw Trip, My 1st Snow – Pengalaman Salju Pertama di Polandia

Hey, it’s me again! I’m gonna post something short, I promise. I don’t want to make all of you guys bored with my silly stories. Detail tentang apa aja yang bisa ditemukan di Warsawa, living cost, etc, nanti saya tulis di postingan yang terpisah yaa! 😀

Let’s just get straight to the point. Last year, I went to Warsaw for choir competition, and…there was unexpected early snowy day! Wow…I just couldn’t hide my excitement over this. LOL. 

Ceritanya berawal dari ketika saya dan Qutb lagi ngobrol-ngobrol di lobby hotel Aramis Warsawa. Semalam sih receptionist hotel sudah menginfokan mengenai weather forecast buat hari ini, katanya sih turun salju. Nggak mau berharap banyak, saya sih nanggepinnya biasa aja, padahal aslinya pengen banget main salju. Hihihi…maklum seumur hidup belum pernah sama sekali pegang dan lihat salju. Pas lagi asik-asik ngobrol tiba-tiba Qutb memekik “Mbak…mbak…apa itu mbak…di belakangmu…putih putih…” Hah?? apaan ini anak siang bolong mau nakut-nakutin? mana ada kuntilanak/pocong di Poland, huh! “Itu mbak…di rambutmuuuuuuuu…!!” Saya mulai parno, apa di rambut saya ketempelan binatang? tapi muka Qutb kelihatan girang banget, apa sih…saya belum ‘ngeuh’ juga sampe dia teriak “Saljuuuuuuu!!!”. AAAAARRRRGGGHHH! Saya dan Qutb teriak-teriak norak di luar hotel sambil bersusah payah menangkap snow flakes pakai tangan kami.

Image

(Our 1st snow flakes…sumpah, ini bukan ketombe!)

Kegirangan menyambut salju pun bikin kita lupa bahwa hari ini kami harus berkompetisi…buahahaha! Alhasil music director kami gondok abisss…Man, c’mooon…sometimes you need to have fun too! 😛 Meski baru salju pertama, tapi nampaknya salju yang turun cukup tebal, alhasil seluruh Warsawa tertutup salju, termasuk lokasi kompetisi UMFC (Uniwersytet Muzyczny Fryderyka Chopina).

Fryderyk-Chopin-University-01

Image

Tapi rupanya salju justru menjadi penyemangat kami…karena terbukti, kami tampil maksimal dan pulang-pulang membawa ini…taa daaaa! 😀

Image

Image

(Bangga, tetep pakai batik di negeri orang)

Daaaannn…di malam hari dan besoknya kami semakin menggila setelah menang dan tak punya beban, perang bola salju, jilat-jilat salju dan uji nyanyi gegulingan di atas salju tanpa coat tak terhindarkan lagi. Ampuni hamba-hamba mu yang katrok ini Ya Allah…

Image

(My 1st snowball…siapa mau ditimpuk?)

(The White Warsaw: Suasana pagi dari jendela hotel)

Image

Ini pengalaman salju pertamaku, bagaimana dengan kamu? 😀

Autumn in Den Haag – Menikmati Musim Gugur di Den Haag

madurodam-den haag

Hallo, ketemu lagi…kali ini sesuai janji saya, saya mau cerita tentang “urusan penting” yang membawa saya sampai ke negeri kincir angin, Belanda. Jadi, ceritanya tahun lalu saya dan teman-teman dari Airlangga University Choir ikut choir competition di Warsaw, Poland (ini nanti selengkapnya saya ceritain di post lainnya juga. fiuhh), tapi karena direct flight Indonesia – Polandia belom ada, makanya kami masuk ke Eropa lewat Belanda dilanjut perjalanan darat menuju Polandia. Tapi sebelum menuju Polandia kami menghadiri undangan KBRI Indonesia di Den Haag untuk tampil di depan tamu-tamu penting dan orang-orang Indonesia di sana. Jadilah selama beberapa hari saya habiskan waktu meng-eksplor Den Haag dan sekitarnya.

Kebetulan kami dapat penginapan di tepi pantai Scheveningen. Nama tempatnya Jorplace Beach Hostel. Konsep penginapannya sih anak muda, banget. Pas nginep di sini ada kejadian lucu, ceritanya mau tanya password WiFi sama mas-mas gondrong di resepsionis. Pas ditanya password WiFi nya apa, dia malah jawab: “I like you”. Sempet GR 2 detik, tapi buru-buru sadar bahwa itu lah password WiFi-nya. D’uh!

Sejak pertama kali menginjakan kaki di Scheveningen sudah nggak sabar pengen main di pantai. Pantainya sih bersih dari sampah…tapiiii…banyak tokai anjing bertebaran huehehe, jadi kudu pinter-pinter menghindari “ranjau” ini  ya kalau mau main-main di pantai. Berhubung sudah masuk musim gugur, angin darat di dekat laut amsyong sekali pemirsa, berhembusnya nggak kira-kira dan masuk angin-able. Jadilah kami main di pantai tapi pake coat. Nggak pa-pa yang penting tetep gaya.

scheveningen-01

(Bukan tukang pijet ya… -.-“)

scheveningen-02

(Jeeeejjjj!)

Scheveningen ini seafood-nya juaraaaa banget. Favorite-nya sih kibbeling, kibbeling ini fish ‘n chip gitu sih…dari fillet ikan Cod segar digoreng tepung. Tekstur ikan Cod ini mirip-mirip kakap, dagingnya putih, tebal, dan lembut. Kibbeling ini biasanya dicocol pakai saus garlic mayo, kalau mau nambah saus lain seperti curry, mustard…mesti nambah lagi 50 eurocents. Pff. BTW, Bukan junk food lho ini, but the taste beats McDonnald’s nugget/KFC anytime! Ikan Cod kan bergizi tinggi ya, minyaknya aja dijadiin vitamin untuk pertumbuhan. Hmm…pantesan orang Belanda tinggi-tinggi dan gede ya? ini mulu sih makanannya hahaha. Karena temen-temen saya yang lain udah beli Cod, saya prefer menu lain akhirnya, kebetulan saya belinya yang clam alias kerang goreng. Kerangnya gede-gede, crunchy banget luarnya, tapi soft & juicy dalamnya. Nggak amis, pertanda semua bahan yang digunakan segar. *iyalah, pinggir laut* Hampir semua fish ‘n chip booth di pinggir pantai jualannya ini, sama satu lagi Haring, ikan mentah yang dicocol pakai chopped onion. Yang cara makannya langsung dimasukin ke tenggorokan. Yucks. Saya nyoba tapi jadi mual, lagian tenggorokan saya nggak cukup. Ikannya gede. :((

Kibbeling

Enak banget, tapi satu porsinya 7 euro! Harganya ngajak ribut bener dah…padahal kalo makan di warung seafood kaki lima sini harga kerang nggak segitunya. *abis makan, terus nyesel, tapi enak, ah sial! dilemma! *

Di deket hostel dan pantai ada warung yang jual makanan Indonesia, semua makanan Indonesia lengkap ada gado-gado, soto, nasi goreng, nasi rames, nasi kuning, tahu, tempe, sayur ini itu, snack semacam pastel, lumpia pun ada…tapi seporsi nasi rames 15 euro. Dih…mending nggak makan. Hahahaha. Nama warungnya “Toko Moerah”, nggak singkron banget sama harga jualannya, mending ganti aja deh namanya jadi “Toko Moeahal”. :p

Image

(Kalo lewat depan sini bawaan nya suka kesel, pengen ngajak berantem owner-nya, pengen makan tapi mahal, hidup segan, mati tak mau! repot!)

Hari kedua di Den Haag, saya dan 4 orang teman saya pergi ke Madurodam…yeyyy! Itu lho wahana miniatur Belanda, jadi kalau kita foto-foto di situ jadinya mirip negeri liliput dan kita raksasanya. Ke Madurodam jalan kaki sekitar 30 menit…dan melewati kota kecil tempat kelahiran Rangga SM*SH, Voorburg…saya twit foto ke dia, dia seneng banget. Twit saya dibales mention pake love-love gitu sama dia…cieeeeee SM*SHBLAST abis ya?? :))

Image

Di perjalanan menuju Madurodam, kami juga melewati World War II Monument…di monumen tersebut terdapat peta Indonesia lho. Tapi yang nyebelin di situ tulisannya bukan kita merebut kemerdekaan negara kita ini, melainkan disebutkan Belanda “menghadiahkan” kemerdekaan kepada kita. Hellooooo?! ?!

Image

Di seberang monumen ini ada hamparan padang rumput yang baguuuuuuusssss banget, dan pepohonan rindang dengan nuansa musim gugur yang sangat kental…plus di tambah ada bangku kayu di bawah pohon dan danau di mana ada angsa-angsa berenang. Di tambah angin sepoi-sepoi but masuk angin-able khas musim gugur bikin rambut kita ditiup-tiup bak model video klip lah. Hahahaha. Ngaco.

Image

(Damai bener rasanya duduk-duduk cantik di sini, maunya sih males balik hotel, tapi takut masuk angin terus al overleden hehehe)

Sampai Madurodam, tiket masuknya 15 euro, wahananya sih sebenernya biasa aja, cuma rumah-rumahan kecil, tapi yang menarik adalah biar kecil tapi “printilan-printilan” yang berada di sekitar rumah/bangunan mungil tersebut bisa bergerak…seperti perahu-perahu yang menyusuri kanal kecil sampai pesawat-pesawat yang bergerak di miniatur bandara Schiphol. Belum puas foto-foto eh, hujan gedeeee…harusnya tadi ngelempar kutang dulu di genteng. Jadilah kami neduh di toko cinderamata, dan acara neduh berubah menjadi beli-beli ini itu. Tapi cuma dikit beli coklat dan pulpen buat oleh-oleh teman di Indo. Ini beberapa foto-foto yang diambil di Madurodam…cekidot!

Image

Image

(Ngapain hayo? ini lagi bikin koin souvenir…jadi koin 5 cent bisa diubah jadi koin ber “emboss” Madurodam)

Image

(Pintu masuk Madurodam…sebelum masuk mendungnya udah gelap banget! :(( )

Image

(Pengeeeeennn banget pakai ini, nyoba doang, nggak beli sih…tapi males copot-copot boots, alhasil nggak jadi nyobain…tapi minggu depannya di Amsterdam kesampaian pakai ini yeheyyy…ceritanya di postingan berikutnya ya! :D)

Sepulang dari Madurodam malamnya kami bertolak menuju Warsawa melalui perjalanan darat…tapi sebelum meninggalkan Scheveningen-Den Haag, sun sayang dulu buat Mr. Raindeer di depan kamar. Mwahhh! :*

Image

Daaagggh! 🙂

Low Budget Paris Trip – Jalan Jalan Murah Ke Paris Dengan Kantong Mahasiswa.

Ini sebenernya cerita traveling yang basi abis, tapi berhubung sampe detik ini masih banyak banget wanita-wanita labil  yang mengidam-idamkan melihat langsung romantisme menara Eiffel, yaa bisa dibilang kalo mau posting cerita traveling ke Paris belom basi juga sih, karena pesona Paris kayanya yang nggak ada basi-basinya *reuzz. (Jadi ini ceritanya kapan, Cit???)

Oke, langsung ke ceritanya aja yah…huehehe :p

Petualangan di mulai pada tanggal 29 Oktober 2012, saya kebetulan waktu itu sudah berada di Amsterdam bersama beberapa teman karena beberapa urusan penting (iya gitu?), yang nanti saya ceritain lebih lanjut di postingan yang lain. Sekitar pukul jam 21.00 waktu Amsterdam, saya dan sekitar 10 orang lainnya jalan menuju halte terdekat dari hostel kami di Bloomstraat (Shelter Jordan Christian Hostel) untuk naik tram ke Amsterdam Central (lupa naik nomer berapa kayaknya sih 14), sampe di Amsterdam Central kami ketemu tante-tante Indonesia sotoy yang kebetulan naik tram juga sambil bawa anak, maunya sih mungkin nolong kami-kami yang bermuka  ndeso dan Jawa abis ini biar nggak kesasar. Kami maksudnya tanya ke si tante kalo mau ke Zuiderzeeweg (pangkalan bus jurusan mau ke Paris) naik tram no berapa. Si tante tanya “Kalian dari mana? Mau ke mana?” | temen saya jawab: “Mau ke Paris tante…”. Eh si tante sotoy bilang “Tapi tram no 26 nggak nyampe Paris lho…”. This #kemudianhening moment happened. Dalam hati saya udah ngakak gak karuan. Ya iyalah tante…kita juga tau, kita emang ndeso tapi ya nggak segitunya juga kaleus…cape deh!

Akhirnya kami turun di Amsterdam Central dan lega telah lepas dari jeratan tante sotoy. Setelah pewe cari tempat duduk di tram no. 26 arah Zuiderzeeweg, kita langsung ngakak-ngakak ngerasani si tante pake bahasa Jawa+Indonesia kenceng-kenceng. Terutama…*uhuk*, mulut saya yang paling kenceng! Tau-taunya pemirsa…si tante masih ngintil kita di tram yang sama dan beliau ada di gerbong sebelah, tapi jaraknya nggak jauh, dan secara tram nya udah malem dan sepi, pastinya si tante tadi denger mulut saya muhahahahah…mati lah!

Sampe Zuiderzeeweg hujan dong, ini satu alasan juga langsung ngibrit dari tram kabur dari si tante sambil neduh, nggak lupa saya ngeluarin payung bening ala-ala AB Three saya (duh! jebakan umur!) sambil nunggu bus. Sampe pangkalan Zuiderzeeweg masih jam 10 malem, sedangkan bisnya mulai jalan jam 00.00. Kita secara ndeso langsung aja nyamperin pak sopir sama keneknya (kenek??), berharap kita bisa langsung naik bus, milih seat dan neduh-neduh cantik di dalem, ternyata nggak dikasih sama orangnya…hih pelit! Dan kudu nunggu sejam-an lagi buat boarding, iya, naik bus pake boarding, nunjukin print out ticket sama ID card/passport gitu deh.

Nah kebetulan bus yang kami naikin buat berangkatnya ini Megabus, Inggris punya kalo nggak salah. Ongkosnya? £5 (pounsterling). Sekitar 75 ribu rupiah/orang. Bayarnya pake credit card, beli sekitar 3 mingguan sebelum hari H dari Indonesia. Amsterdam-Brussels-Paris…dijadwalkan 7 jam perjalanan, fix kita pake buat ngorok. Sekitar jam 3 an pagi sampe Brussels, bus-nya turunin penumpang, pengen banget check-in Foursquare buat gaya-gaya an…tapi nggak ada WiFi, lagian juga udah ngantuk, mau foto-foto tanda kami pernah menginjakkan kaki di Brussels, Belgia pun kandas karena mata lengket dan di luar gelap gulita plusss duingin. Cuma sanggup kriyep-kriyep dikit ngeliatin beberapa bangunan di Brussels dari jendela bus.

Sekitar jam 4.45-an pagi sampailah kami di Paris…horray! (ternyata nggak sampai 7 jam) Berbekal peta download-an di tablet, dan browse sana-sini sebelumnya, kami menyimpulkan kalo tempat pemberhentian Megabus di Paris deket sama Arch de Triomphe. Jadilah Arch de Triomphe ada di list pertama tempat yang kami rencanakan buat foto-foto. Kami jalan sampai 1 km, tapi sama sekali belum nemu petunjuk jalan yang ada tulisan Arch de Triomphe-nya…mana warung-warung (warung??) jam segituan masih pada tutup, tapi ada 1 warung yang masih buka (baca: udah tutup separo)…terus kita nekad tanya ke si bapaknya di manakah Arch de Triomphe berada pakai bahasa Inggris. Well, tau kan kalo orang Perancis itu menjunjung tinggi bahasa mereka sendiri, jadilah si bapak menjawab pertanyaan kami dengan bahasa Perancis…gembel! Akhirnya dengan segala keterbatasan kami menafsirkan kalo Arch de Triomphe masih kudu jalan sekitar tiga blok lagi, sampe nemu perempatan belok kanan…teruuuusss aja mentok jangan berhenti sampe ente nemu bangunannya. Gitu kira-kira. Kampret.

Tiga blok di Paris sama tiga blok di komplek perumahan semacam beda jauh, karena pada kenyataannya kami harus jalan sekitar 2 km-an lagi, dan jalan menuju Arch de Triomphe-nya nanjak begitu…ajiiibb. Jadilah kami dengan nafas ngos-ngosan senen-kemis, menyusuri tanjakan menuju Arch de Triomphe dengan suhu udara subuh waktu itu diperkirakan 8-9 derajat celcius. Enak tante.

Lalu…sampailah perjuangan kami di tujuan pertama: Arch de Triomphe! Yay…ini fotonya!

arch-de-triomphe

Setelah sekitar 15 menitan foto-foto nggak jelas di seberang Arch de Triomphe, (iya, emang nggak jelas, cuma gapura doang gitu, semacam nothing sepesial heu!), saatnya move on ke tujuan kedua. Tujuan kedua adalah tujuan paling utama dan mulia dalam perjalanan kami, yaitu *teret teret tereeeettt* Eiffel Tower!!! Kalo ibaratnya Kera Sakti and the gank, perjalanan menuju Eiffel ini adalah tujuan kami mencari kitab suci.

Kebetulan sekitar 50 meter dari Arch de Triomphe ada subway (ini stasiun bawah tanah, buat naik metro), di situ kami baca-baca peta sebentar terus baca-baca info tentang tiket buat transport kami selama di sana, kalo nggak salah kemaren beli yang buat seharian…€15 harganya kalo nggak salah inget. Setelah itu kami naik metro menuju stasiun terdekat dari lokasi Tour Eiffel…nama stasiunnya Bier Hakim. Naik metro subuh-subuh di Paris yang ada parno ya…metro sih lengang banget, tapi isinya orang-orang teler semua, beberapa masih bawa botol beling yang masih ada miras-nya. Secara saya yang paling senior umurnya di rombongan ini, otomatis saya kudu pasang tampang berani untuk menjaga beberapa gadis belia yang lebih parno-an di rombongan ini. Hiks.

Sampai di Bier Hakim, kami buru-buru keluar dari subway…di seberang subway, cacing-cacing di perut kami menggelinjang melihat logo SUBWAY (yang ini makanan, sandwich booth), tapi ternyata SUBWAY-nya masih tutup, secara langit juga masih gelap…jadilah kami jalan menuju taman terdekat buat duduk, istirahat, makan bekal nasi dingin yang dibawa dari Amsterdam (sedih banget kayaknya ya? emang!), sambil touch-up dikit-dikit (biar foto di Eiffel-nya nggak pake muka hina), dan nggak lupa kami pada buang air kecil di WC umum yang bisa ngomong. Beneran, WC-nya bisa ngomong.

Setelah sekitar setengah jam-an kami istirahat, kami melanjutkan perjalanan sejauh hampir 2 km lagi menuju Eiffel. Kebetulan di Eiffel kami dapet pas sunrise, jadi Eiffel-nya tsakep banget bisa berwarna keemasan diterpa sinar matahari terbit, kontras dengan langit kelabu tanda pergantian dari gelap menuju terang. FYI nih, Eiffel asli bagusnya kalo kena sunrise doang…pas udah di atas mataharinya, udah kusem warna Eiffel-nya, kayak tower PLN biasa…dan gak ada romantis-romantisnya. Biasa aja. Suerrr! Tantangan foto di Eiffel cuma nyari angle yang oke biar menaranya kelihatan sampe puncak tanpa kita kelihatan berdiri terlalu jauh dari menaranya. Fotonya di Eiffel-nya no edit, no filter ya…cuma resize aja! 😀

eiffel-tower

(mohon pose-nya diabaikan saja! -.-“)

Dari Eiffel, balik lagi menuju SUBWAY…dibelain nunggu di luar sampe warungnya buka hahaha. SUBWAY ini dulu sempat punya gerai di Indonesia, tapi karena kurang peminat terus tutup, padahal sandwich-nya enak dan bikin kenyang banget loh. Isinya juga enak, topping, saus & sayuran bisa by request, favorit saya sih Meatball Marinara & Chicken Teriyaki. Porsinya besar, harganya 5 euro-an. Setelah puas memberi makan cacing-cacing di perut, kami siap menuju ke tujuan ketiga yaitu…lokasi shooting film The Da Vinci Code alias Musée du Louvre, yang terkenal dengan pyramid kaca dan lukisan Mona Lisa di dalamnya. Tapi sebelumnya kami beli oleh-oleh dulu…dan sedihnya harga di Paris nggak reasonable banget, ngeselin, belanja dikit tau-tau abis 100 euro (abisnya buru-buru sih!). Selanjutnya kami naik metro lagi menuju subway Palais Royal, dan dilanjutkan berjalan kaki sekitar 10 menit menuju Musée du Louvre.

Sampai di Louvre, sudah agak siang…foto-foto ala kadarnya di depan pyramid kaca, which is susah banget karena jam segini antrean turis masuk ke Louvre sudah mengular. Kami sih nggak masuk ke Louvre-nya, duitnya udah dipakai buat beli oleh-oleh kaos yang ada tulisan “Paris”-nya. Lame? Biarin! :))) Sementara itu di seputaran Louvre banyak orang-orang Afrika berbahasa Indonesia yang jual keychain sama miniatur Eiffel, yang lucu mereka semacam di brain wash cuma bisa ngomong beberapa kata bahasa Indonesia dengan intonasi yang sama dan berulang-ulang. Mirip robot. Yang bisa mereka katakan cuma: “Murah-murah. Lima satu euro. Murah-murah. Lima satu euro.” sampe dower. Hahaha. Itu yang mereka katakan sewaktu menjajakan dagangan keychain, 1 euro dapat 5 pcs. Beli deh jadinya. Anyway…ini foto saya di Louvre. Bener-bener seadanya. Pokoknya pernah ke Louvre. wekkk! :p

musee-du-louvre-01

Setelah pura-pura puas foto di Louvre…saatnya saya dan 4 orang lainnya pulang. Lah…kenapa buru-buru? Segini doang ceritanya? Penonton kecewaaa… soalnya dapet tiket bus pulangnya yang siang. Nginep bisa kaliiii…oke, lain kali ente yang bayarin tapi. Dari Louvre kami berlima balik ke subway Palais Royal menuju ke stasiun terakhir paling mentok, yaitu Paris Galieni Porte Bagnolet, which is jauhnya 13 stasiun…mana udah mepet banget jamnya buat check-in ke Eurolines. Oh iya pemirsa, kami balik ke Amsterdam-nya pakai Eurolines, 20-an euro harga tiket sekali jalannya. Mahal gila kan? Terkutuk sekali untuk kantong mahasiswa yang menderita seperti kami. Hih!

Kami turun di stasiun terakhir ternyata ini adalah bagian bawah tanahnya Charles de Gaulle airport. Lha kok bisa ya? au deh. Pokoknya tau-tau nyampe di sini. 30 menit kemudian kami naik bus Eurolines menuju ke pemberhentian pertama stasiun Brussels. Di Brussels kami transit selama hampir satu jam. Cukup buat ngopi-ngopi cantik dulu di Starbucks stasiun Brussels dan foto-foto seadanya di seputaran stasiun. Ini fotonya, udah malem, gelapsss, no flash, pakai kamera hp, belom mandi hampir 24 jam, lengkaplah semua kehinaan. Pokoknya ada tulisan Brussels. Nggak usah protes!

brussels

Perjalanan pulang kami ini lama bener dah. Muter-muter dulu busnya ke Rotterdam segala, udah mahal, lama pula! Menyebalkan…padahal temen-temen yang lain yang pulang lebih sorean sudah sampai hostel, sedangkan kami sampai hostel jam 9 malam. Molor 2 jam perjalanan, Indonesia sekali.

Ya udah sih, itu sekelumit cerita perjalanan geje ke Paris dengan budget 1,5-2 juta rupiah. Capenya sih terbayar karena rupanya foto-foto saya biar jelek tetep bisa bikin iri orang orang yang belum pernah ke Paris. *evil-smirk*

Ini ada beberapa foto geje yang lain, yang sempat diabadikan…

musee-du-louvre-02

(ini masih di Louvre…main obok-obok kolam di belakang pyramid sambil diem-diem cuci muka pas nggak ada yang liat! :p)

Sampai ketemu di postingan selanjutnya…Arrivederci! 😉