Low Budget Paris Trip – Jalan Jalan Murah Ke Paris Dengan Kantong Mahasiswa.

Ini sebenernya cerita traveling yang basi abis, tapi berhubung sampe detik ini masih banyak banget wanita-wanita labil  yang mengidam-idamkan melihat langsung romantisme menara Eiffel, yaa bisa dibilang kalo mau posting cerita traveling ke Paris belom basi juga sih, karena pesona Paris kayanya yang nggak ada basi-basinya *reuzz. (Jadi ini ceritanya kapan, Cit???)

Oke, langsung ke ceritanya aja yah…huehehe :p

Petualangan di mulai pada tanggal 29 Oktober 2012, saya kebetulan waktu itu sudah berada di Amsterdam bersama beberapa teman karena beberapa urusan penting (iya gitu?), yang nanti saya ceritain lebih lanjut di postingan yang lain. Sekitar pukul jam 21.00 waktu Amsterdam, saya dan sekitar 10 orang lainnya jalan menuju halte terdekat dari hostel kami di Bloomstraat (Shelter Jordan Christian Hostel) untuk naik tram ke Amsterdam Central (lupa naik nomer berapa kayaknya sih 14), sampe di Amsterdam Central kami ketemu tante-tante Indonesia sotoy yang kebetulan naik tram juga sambil bawa anak, maunya sih mungkin nolong kami-kami yang bermuka  ndeso dan Jawa abis ini biar nggak kesasar. Kami maksudnya tanya ke si tante kalo mau ke Zuiderzeeweg (pangkalan bus jurusan mau ke Paris) naik tram no berapa. Si tante tanya “Kalian dari mana? Mau ke mana?” | temen saya jawab: “Mau ke Paris tante…”. Eh si tante sotoy bilang “Tapi tram no 26 nggak nyampe Paris lho…”. This #kemudianhening moment happened. Dalam hati saya udah ngakak gak karuan. Ya iyalah tante…kita juga tau, kita emang ndeso tapi ya nggak segitunya juga kaleus…cape deh!

Akhirnya kami turun di Amsterdam Central dan lega telah lepas dari jeratan tante sotoy. Setelah pewe cari tempat duduk di tram no. 26 arah Zuiderzeeweg, kita langsung ngakak-ngakak ngerasani si tante pake bahasa Jawa+Indonesia kenceng-kenceng. Terutama…*uhuk*, mulut saya yang paling kenceng! Tau-taunya pemirsa…si tante masih ngintil kita di tram yang sama dan beliau ada di gerbong sebelah, tapi jaraknya nggak jauh, dan secara tram nya udah malem dan sepi, pastinya si tante tadi denger mulut saya muhahahahah…mati lah!

Sampe Zuiderzeeweg hujan dong, ini satu alasan juga langsung ngibrit dari tram kabur dari si tante sambil neduh, nggak lupa saya ngeluarin payung bening ala-ala AB Three saya (duh! jebakan umur!) sambil nunggu bus. Sampe pangkalan Zuiderzeeweg masih jam 10 malem, sedangkan bisnya mulai jalan jam 00.00. Kita secara ndeso langsung aja nyamperin pak sopir sama keneknya (kenek??), berharap kita bisa langsung naik bus, milih seat dan neduh-neduh cantik di dalem, ternyata nggak dikasih sama orangnya…hih pelit! Dan kudu nunggu sejam-an lagi buat boarding, iya, naik bus pake boarding, nunjukin print out ticket sama ID card/passport gitu deh.

Nah kebetulan bus yang kami naikin buat berangkatnya ini Megabus, Inggris punya kalo nggak salah. Ongkosnya? £5 (pounsterling). Sekitar 75 ribu rupiah/orang. Bayarnya pake credit card, beli sekitar 3 mingguan sebelum hari H dari Indonesia. Amsterdam-Brussels-Paris…dijadwalkan 7 jam perjalanan, fix kita pake buat ngorok. Sekitar jam 3 an pagi sampe Brussels, bus-nya turunin penumpang, pengen banget check-in Foursquare buat gaya-gaya an…tapi nggak ada WiFi, lagian juga udah ngantuk, mau foto-foto tanda kami pernah menginjakkan kaki di Brussels, Belgia pun kandas karena mata lengket dan di luar gelap gulita plusss duingin. Cuma sanggup kriyep-kriyep dikit ngeliatin beberapa bangunan di Brussels dari jendela bus.

Sekitar jam 4.45-an pagi sampailah kami di Paris…horray! (ternyata nggak sampai 7 jam) Berbekal peta download-an di tablet, dan browse sana-sini sebelumnya, kami menyimpulkan kalo tempat pemberhentian Megabus di Paris deket sama Arch de Triomphe. Jadilah Arch de Triomphe ada di list pertama tempat yang kami rencanakan buat foto-foto. Kami jalan sampai 1 km, tapi sama sekali belum nemu petunjuk jalan yang ada tulisan Arch de Triomphe-nya…mana warung-warung (warung??) jam segituan masih pada tutup, tapi ada 1 warung yang masih buka (baca: udah tutup separo)…terus kita nekad tanya ke si bapaknya di manakah Arch de Triomphe berada pakai bahasa Inggris. Well, tau kan kalo orang Perancis itu menjunjung tinggi bahasa mereka sendiri, jadilah si bapak menjawab pertanyaan kami dengan bahasa Perancis…gembel! Akhirnya dengan segala keterbatasan kami menafsirkan kalo Arch de Triomphe masih kudu jalan sekitar tiga blok lagi, sampe nemu perempatan belok kanan…teruuuusss aja mentok jangan berhenti sampe ente nemu bangunannya. Gitu kira-kira. Kampret.

Tiga blok di Paris sama tiga blok di komplek perumahan semacam beda jauh, karena pada kenyataannya kami harus jalan sekitar 2 km-an lagi, dan jalan menuju Arch de Triomphe-nya nanjak begitu…ajiiibb. Jadilah kami dengan nafas ngos-ngosan senen-kemis, menyusuri tanjakan menuju Arch de Triomphe dengan suhu udara subuh waktu itu diperkirakan 8-9 derajat celcius. Enak tante.

Lalu…sampailah perjuangan kami di tujuan pertama: Arch de Triomphe! Yay…ini fotonya!

arch-de-triomphe

Setelah sekitar 15 menitan foto-foto nggak jelas di seberang Arch de Triomphe, (iya, emang nggak jelas, cuma gapura doang gitu, semacam nothing sepesial heu!), saatnya move on ke tujuan kedua. Tujuan kedua adalah tujuan paling utama dan mulia dalam perjalanan kami, yaitu *teret teret tereeeettt* Eiffel Tower!!! Kalo ibaratnya Kera Sakti and the gank, perjalanan menuju Eiffel ini adalah tujuan kami mencari kitab suci.

Kebetulan sekitar 50 meter dari Arch de Triomphe ada subway (ini stasiun bawah tanah, buat naik metro), di situ kami baca-baca peta sebentar terus baca-baca info tentang tiket buat transport kami selama di sana, kalo nggak salah kemaren beli yang buat seharian…€15 harganya kalo nggak salah inget. Setelah itu kami naik metro menuju stasiun terdekat dari lokasi Tour Eiffel…nama stasiunnya Bier Hakim. Naik metro subuh-subuh di Paris yang ada parno ya…metro sih lengang banget, tapi isinya orang-orang teler semua, beberapa masih bawa botol beling yang masih ada miras-nya. Secara saya yang paling senior umurnya di rombongan ini, otomatis saya kudu pasang tampang berani untuk menjaga beberapa gadis belia yang lebih parno-an di rombongan ini. Hiks.

Sampai di Bier Hakim, kami buru-buru keluar dari subway…di seberang subway, cacing-cacing di perut kami menggelinjang melihat logo SUBWAY (yang ini makanan, sandwich booth), tapi ternyata SUBWAY-nya masih tutup, secara langit juga masih gelap…jadilah kami jalan menuju taman terdekat buat duduk, istirahat, makan bekal nasi dingin yang dibawa dari Amsterdam (sedih banget kayaknya ya? emang!), sambil touch-up dikit-dikit (biar foto di Eiffel-nya nggak pake muka hina), dan nggak lupa kami pada buang air kecil di WC umum yang bisa ngomong. Beneran, WC-nya bisa ngomong.

Setelah sekitar setengah jam-an kami istirahat, kami melanjutkan perjalanan sejauh hampir 2 km lagi menuju Eiffel. Kebetulan di Eiffel kami dapet pas sunrise, jadi Eiffel-nya tsakep banget bisa berwarna keemasan diterpa sinar matahari terbit, kontras dengan langit kelabu tanda pergantian dari gelap menuju terang. FYI nih, Eiffel asli bagusnya kalo kena sunrise doang…pas udah di atas mataharinya, udah kusem warna Eiffel-nya, kayak tower PLN biasa…dan gak ada romantis-romantisnya. Biasa aja. Suerrr! Tantangan foto di Eiffel cuma nyari angle yang oke biar menaranya kelihatan sampe puncak tanpa kita kelihatan berdiri terlalu jauh dari menaranya. Fotonya di Eiffel-nya no edit, no filter ya…cuma resize aja! 😀

eiffel-tower

(mohon pose-nya diabaikan saja! -.-“)

Dari Eiffel, balik lagi menuju SUBWAY…dibelain nunggu di luar sampe warungnya buka hahaha. SUBWAY ini dulu sempat punya gerai di Indonesia, tapi karena kurang peminat terus tutup, padahal sandwich-nya enak dan bikin kenyang banget loh. Isinya juga enak, topping, saus & sayuran bisa by request, favorit saya sih Meatball Marinara & Chicken Teriyaki. Porsinya besar, harganya 5 euro-an. Setelah puas memberi makan cacing-cacing di perut, kami siap menuju ke tujuan ketiga yaitu…lokasi shooting film The Da Vinci Code alias Musée du Louvre, yang terkenal dengan pyramid kaca dan lukisan Mona Lisa di dalamnya. Tapi sebelumnya kami beli oleh-oleh dulu…dan sedihnya harga di Paris nggak reasonable banget, ngeselin, belanja dikit tau-tau abis 100 euro (abisnya buru-buru sih!). Selanjutnya kami naik metro lagi menuju subway Palais Royal, dan dilanjutkan berjalan kaki sekitar 10 menit menuju Musée du Louvre.

Sampai di Louvre, sudah agak siang…foto-foto ala kadarnya di depan pyramid kaca, which is susah banget karena jam segini antrean turis masuk ke Louvre sudah mengular. Kami sih nggak masuk ke Louvre-nya, duitnya udah dipakai buat beli oleh-oleh kaos yang ada tulisan “Paris”-nya. Lame? Biarin! :))) Sementara itu di seputaran Louvre banyak orang-orang Afrika berbahasa Indonesia yang jual keychain sama miniatur Eiffel, yang lucu mereka semacam di brain wash cuma bisa ngomong beberapa kata bahasa Indonesia dengan intonasi yang sama dan berulang-ulang. Mirip robot. Yang bisa mereka katakan cuma: “Murah-murah. Lima satu euro. Murah-murah. Lima satu euro.” sampe dower. Hahaha. Itu yang mereka katakan sewaktu menjajakan dagangan keychain, 1 euro dapat 5 pcs. Beli deh jadinya. Anyway…ini foto saya di Louvre. Bener-bener seadanya. Pokoknya pernah ke Louvre. wekkk! :p

musee-du-louvre-01

Setelah pura-pura puas foto di Louvre…saatnya saya dan 4 orang lainnya pulang. Lah…kenapa buru-buru? Segini doang ceritanya? Penonton kecewaaa… soalnya dapet tiket bus pulangnya yang siang. Nginep bisa kaliiii…oke, lain kali ente yang bayarin tapi. Dari Louvre kami berlima balik ke subway Palais Royal menuju ke stasiun terakhir paling mentok, yaitu Paris Galieni Porte Bagnolet, which is jauhnya 13 stasiun…mana udah mepet banget jamnya buat check-in ke Eurolines. Oh iya pemirsa, kami balik ke Amsterdam-nya pakai Eurolines, 20-an euro harga tiket sekali jalannya. Mahal gila kan? Terkutuk sekali untuk kantong mahasiswa yang menderita seperti kami. Hih!

Kami turun di stasiun terakhir ternyata ini adalah bagian bawah tanahnya Charles de Gaulle airport. Lha kok bisa ya? au deh. Pokoknya tau-tau nyampe di sini. 30 menit kemudian kami naik bus Eurolines menuju ke pemberhentian pertama stasiun Brussels. Di Brussels kami transit selama hampir satu jam. Cukup buat ngopi-ngopi cantik dulu di Starbucks stasiun Brussels dan foto-foto seadanya di seputaran stasiun. Ini fotonya, udah malem, gelapsss, no flash, pakai kamera hp, belom mandi hampir 24 jam, lengkaplah semua kehinaan. Pokoknya ada tulisan Brussels. Nggak usah protes!

brussels

Perjalanan pulang kami ini lama bener dah. Muter-muter dulu busnya ke Rotterdam segala, udah mahal, lama pula! Menyebalkan…padahal temen-temen yang lain yang pulang lebih sorean sudah sampai hostel, sedangkan kami sampai hostel jam 9 malam. Molor 2 jam perjalanan, Indonesia sekali.

Ya udah sih, itu sekelumit cerita perjalanan geje ke Paris dengan budget 1,5-2 juta rupiah. Capenya sih terbayar karena rupanya foto-foto saya biar jelek tetep bisa bikin iri orang orang yang belum pernah ke Paris. *evil-smirk*

Ini ada beberapa foto geje yang lain, yang sempat diabadikan…

musee-du-louvre-02

(ini masih di Louvre…main obok-obok kolam di belakang pyramid sambil diem-diem cuci muka pas nggak ada yang liat! :p)

Sampai ketemu di postingan selanjutnya…Arrivederci! 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s