[Review] Viva Queen Eye Base Gel – affordable Indonesian product eyeshadow primer!

Ini adalah eyeshadow base/primer yang pertama kali saya beli, seumur-umur! Jujur selama ini pakai eyeshadow selalu tinggal teplok aja, atau pakai cara kuno, yaitu pakai eyeshadow applicator sponge yang ujungnya dibasahi. Hihihi…yeah I’ve been living under a rock with Patrick Star for all this time! Well, seperti yang kita tau, bahwa fungsi dari eyeshadow base/primer adalah “menyiapkan” kulit kelopak mata kita untuk berinteraksi dengan eyeshadow, melembabkan kulit di seputaran kelopak mata (yang biasa cenderung kering), terus bikin warna eyeshadow jadi makin “keluar”, dan juga tahan lama. 🙂

Ceritanya sebulanan lalu pas belanja di Hypermart, ternyata lagi ada semacam demo make-up/free make over dari Viva gitu. Kebetulan waktu itu di booth Viva ada display berbagai macam produk Viva yang ternyata selama ini banyak yang saya belum pernah tau! Saya pakai produk Viva selama ini cuma pensil alis aja. Nah, salah satu produk Viva yang saya sama sekali nggak tau ini akhirnya ada yang menggoda dan bikin pengen dibeli, yaitu Viva Queen Moisturizing Eye Base Gel for perfect eyeshadow. Ini adalah salah satu produk baru yang ada di rangkaian Viva Queen, karena produk baru, ya pantes aja saya belum pernah tau sebelumnya. Hehehe… Secara saya belum pernah punya eyeshadow base/primer, kenapa enggak dibeli aja? waktu tanya informasi harga ke SPG-nya, saya sempet shock, ternyata harganya cuma sekitar 10 ribu sekian rupiah. Gilaaaa murah banget! Karena kebetulan waktu itu ada special event, maka semua produk Viva didiskon sebesar 20%, jadi saya cuma bayar sekitar 8 ribu sekian rupiah saja untuk produk ini.  *jaw dropped*

viva-eyebase-gel-review

Begini kira-kira penampakan produknya (maap. udah agak belepotan kemasannya, kena tangan kotor abis ngerias orang! :D). Dikemas dalam tube kecil ukuran 15 gram. Tapiii berhubung pakenya sedikit-sedikiiiittt banget jadi ini habisnya bakal bertahun-tahun. Udah murah, hemat banget lagi pakainya. Syukurlah expiry date-nya masih sampai 2016. Tapi mungkin juga bisa cepet abis karena ini eye base gel saya pakai juga buat bantu nge-swatch produk-produk eyeshadow yang saya review. 😀

Di belakang kemasan sudah disertai cara pemakaiannya. Standard sih cara pakainya, sama seperti eyeshadow base/primer lainnya. Tinggal oles dan tepuk-tepuk kelopak mata dab dab dab…, biarkan 2 menitan sampai terserap sempurna oleh kulit, lalu apply eyeshadow seperti biasa.

Image

Cara pakainya kudu bener-bener sedikiiiiit seperti foto di atas ya, soalnya kalau kebanyakan/ketebelan apply primer-nya, jadi lebih makan waktu lama keringnya. (saya orangnya suka nggak sabaran, nunggu kering 2 menitan aja berasa lama haha!) Dan bahayanya kalau maksa neplokin eyeshadow pas primer (merk apapun)-nya masih agak basah, jadinya malah belepotan. Jadi bisa dilihat pada foto di atas, setelah eye base/primer diaplikasikan, kulit kita jadi agak ada lapisan yang shiny. (kelihatan nggak sih di foto?) Dan pastinya produk ini adem dan lembut jatohnya di kulit, karena mengandung ekstrak Chamomile, jadi nyessss gitu! Udah gitu tekstur gel-nya ringan & nggak lengket.

Sekarang saatnya “smudge test”. Tanpa kita sadari, kadang kita mengucek mata pas lagi pakai make up dan mengakibatkan eyeshadow/eyeliner jadi berantakan. Foto di bawah ini menunjukan hasil pengaplikasian eyeshadow dengan & tanpa eye base/primer. Di foto pertama (atas), terlihat bahwa eyeshadow over eye base/primer jatuhnya lebih pekat dan pigmented, sedangkan yang tanpa eye base/primer tidak seberapa “keluar” warnanya. Foto bawah adalah hasil  setelah di “smudge”  dengan cara digosok+ditarik garis lurus pakai jari sekuat tenaga dua arah. Pengaplikasian eyeshadow tanpa eye base/primer, nyaris semuanya terhapus, sedangkan yang over eye base/primer masih tetap melekat pada tempatnya walau sedikit terhapus. See? Super good quality!!! 😀

Image

(left: over eye base/primer | right: without eye base/primer. Eyeshadow I used for this test: Half Baked – NAKED2 by Urban Decay)

Pros: awesome formula, super good quality with unbelievably cheap price!!! (under 15K IDR.)

Cons: NONE! 😀

Repurchase? Sure! Tapi nunggu ini abis…mungkin sekitar taun 2014-2015-an hihi!

Kesimpulannya, sekarang nambah satu lagi produk dari Viva yang saya suka selain pensil alisnya. Nggak selamanya lho produk lokal yang murah itu hasilnya mengecewakan. Produk yang mahal pun nggak jaminan bikin cantik, cantik juga nggak harus mahal, kan? So, stop underestimating! Cintai produk dalam negeri. (ini yang bikin saya nulis post pakai bahasa Indonesia yang tidak sepenuhnya baik dan benar) 😀

Mwah! :*

Advertisements

[Review] Citra Advanced White hand & body lotion SPF 20 PA++ with Almond Oil & Avocado. (from BUBU.COM)

citra-advanced-white-SPF20-review

So I just received a packaged from BUBU.COM, dan setelah dibuka ternyata isinya adalah Citra Advanced White hand & body lotion SPF 20 PA++ with Almond Oil & Avocado. Who doesn’t love freebies here? Walaupun ini sample, tapi paket yang datang adalah kemasan “actual size”, botol lotion dengan ukuran sedang seperti yang di jual di supermarket.

Siapa yang nggak kenal lotion Citra? I find it awkward (until now haha) tiap kali baca merk lotion ini, ’cause this brand’s name exactly like mine. Lotion produksi Unilever ini sudah terkenal sejak puluhan tahun yang lalu, kata Mama saya sih, even before she’s getting married sudah pakai lotion ini. Maybe my name given after this lotion? Who knows! Hihihi. Dari kemasannya bisa dibaca bahwa lotion ini mengandung SPF 20 PA++, plus embel-embel “Advanced White”. Dengan tagline: “Kulit semakin putih alami, sekalipun di bawah sinar matahari.” means, lotion ini punya higher SPFwhitening power yang lebih strong dari produk whitening keluaran Citra sebelum ini.

I’m not so in to any whitening lotion actually…first, cause I just love the way my medium-dark brown skin look. Second, I’m a motor-biker by day, and direct sunlight is my best friend. Third, I just never believe in any whitening lotion. LOL. Semacam pakai-nggak pakai lotion itu sama aja, nggak ngaruh, tetep aja keling. Tapi nggak ada salahnya kan untuk mencoba lagi? Let’s see if this lotion will works for me! 😀

First thing I noticed from this lotion is the smell, smells good, soft & lightly fragrance. Aku personally kurang terlalu suka lotion yang baunya strong banget. Selanjutnya, teksturnya. Lotion ini teksturnya ringan, tidak berminyak, dan cepat sekali terserap secara sempurna oleh kulit. Di kulit pun terasa sejuk, sekalipun dipakai outdoor dan keringetan, nggak bikin kulit berasa licin/lotion luntur bersamaan dengan keringat. Beberapa hari setelah dipakai mulai terasa kelembutan dari Almond Oil & Avocado extract-nya , tapi efek memutihkannya belum terlihat.

citra-advanced-white-SPF20-review-01

(Perfectly absorbed by skin in seconds! Love it!)

Pro: love the lotion’s texture…light and quickly absorbed by skin!

Con: mmm…not yet, I guess! 😉

Jadi mari kita lihat apakah dalam beberapa minggu ke depan akan ada perubahan di tangan saya yang belang gegara tiap hari naik motor kemana-mana. 😀

See you guys on the next review! 

Tips Traveling ke Negara 4 Musim – Autumn/Winter

Packing. Hal paling penting yang harus dilakukan sebelum kita traveling adalah? Packing. Ada orang yang punya kebiasaan nyicil packing sejak jauh-jauh hari, ada juga orang yang (saking seringnya traveling dan udah jago, biasanya) suka packing dadakan beberapa jam sebelum berangkat. Apapun kebiasaan packing Anda, tentunya bisa berabe kalau sampai ada barang yang tertinggal. Apalagi kalau perginya ke luar negeri dan barang yang ketinggalan tersebut penting dan susah dicari di sana, atau harganya lebih mahal. Sayang banget kan, kalau budget untuk jalan-jalan termakan buat beli-beli barang yang ketinggalan. Biasanya untuk menghindari barang-barang yang tertinggal, banyak orang yang kalau packing udah kayak mau pindahan rumah. Semua-semua dibawa, akhirnya bagasi overload, dan keluar duit lagi buat bayar.

Nah, gimana cara menyiasati packing yang efisien? Kalau perginya jauh ke luar benua gimana? Apalagi kita cewe, barang bawaannya nggak bisa sedikit dong. Kali ini saya mau share siasatnya agar bagasi kita tetap aman tanpa overload sejak pulang-pergi. FYI, jatah bagasi per orang biasanya antara 20-25 kg, beda-beda tergantung maskapai penerbangannya. Selama ini tiap saya pergi ke Eropa, berat koper berangkat selalu berkisar antara 15-16 kg, pulangnya paling poll sekitar 18 kg. Untuk tips yang mau saya share kali ini kebetulan adalah tips untuk traveling pada saat autumn/winter ke negara 4 musim. Check this out! 🙂

1. Basic autumn/winter outfit yang wajib di bawa:

tips-traveling-eropa-01

Coat/Trench coat: Pilih yang bahan yang cukup tebal, dari wool/leather/faux leather. Pilih 1 size lebih besar, karena kalau dingin biasa suka dobel-dobel pakai bajunya

Shawl/Scarf: Ini penting banget buat hangatin leher kita.

Boots: Pilih FLAT boots. Seriously. Karena untuk vacation, nantinya kita akan banyak jalan kaki. Silakan aja sih kalau mau pakai boots yang ber-heels/wedges. Tapi kalo nanti pegel atau lecet terus kenyamanan traveling jadi terganggu, nggak tanggung yah. Lagian nggak bisa nyeker juga, kan dingin. :p Disarankan pilih boots yang bahan leather/faux leather, biar kalau kena hujan aman. Boleh sih pakai bahan suede semacam UGG boots (saya juga suka pakai ini, cewe-cewe di Ceko & Belanda banyak yang pakai ini sehari-hari), karena lebih hangat. Asal kalau basah/kena air harus buru-buru dikeringin ya, pakai hair dryer bisa kok. 🙂 Oh iya, pastikan sole boots kamu terbuat dari lapisan karet non-slip yang bagus. Saya pernah punya pengalaman pakai boots murmer (150 ribuan) buatan lokal, terus pas kebetulan ketemu salju, duh slippery banget rasanya. Bukan under-estimate ke semua local product ya, cuma harus hati-hati pilih sepatu aja IMHO. Boots bisa juga disiasati beli di tempat tujuan (asal sempat & ada waktu luang untuk belanja), sepatu model-model serupa UGG bisa dibeli dengan harga sekitar € 4-8. (Saya pernah beli yang lagi sale, € 2.5 atau 35 ribuan saja :D)

Earmuff: Sekalipun musim gugur, kadang udara dinginnya kebangetan, sampai bikin telinga jadi sakit dan kaku. Untuk itu earmuff diperlukan agar telinga kita tetap hangat.

Gloves: Pilih bahan knit atau kalau mau nggak cepat kotor pakai bahan leather/faux leather.

DOs: Bawa baju secukupnya, hitung betul-betul berapa banyak kesempatan kita buat ganti baju.

DON’Ts: Untuk cuaca yang dingin hindari jeans, karena jeans menyerap kelembaban dan bakal bikin kaki kita tambah dingin. Kalau mau pakai jeans, bisa didobelin legging atau long john.

Selanjutnya, pada saat kita sudah sampai tujuan, dan siap jalan-jalan serta menjelajah. Ada barang-barang yang WAJIB pake BANGET harus kita bawa kemana-mana.

2. Barang-barang yang wajib ada di tas kita sewaktu jalan-jalan:

tips-traveling-eropa-02

Water tumbler/botol minum: Ini kalo kata pak ustadz hukumnya “fardhu’ ain”. Kenapa? Air minum di luar negeri mehong cyiiin! Alias mahal, bahkan harga beer kaleng lebih murah daripada air mineral botol. Parahnya lagi, biasanya air mineral di luar negeri ada soda-nya, atau kalau nggak, ya ada aroma bunga yang aneh-aneh gitu. Mirip air dari dukun deh rasanya hahaha. Mending isi botol kamu pakai tap water/air kran (air kran biasanya sangat bersih dan bisa langsung diminum). Bawa jalan-jalan. Kalau habis? tinggal cari kran terdekat, terus refill deh! 😉

Personal medicine/obat-obatan pribadi: Sebelum melakukan perjalanan jauh, nggak ada salahnya check-up ke dokter. Obat-obatan pribadi ini wajib banget dibawa apalagi buat yang punya penyakit khusus atau kambuhan asthma/maag/alergi tertentu. Buat yang nggak punya penyakit khusus, bawa obat-obatan yang basic, seperti obat flu, obat pusing/pereda nyeri, obat anti mabuk, obat batuk, dan anti biotik. Yang Indonesia banget nih, bawa sirup anti masuk angin, atau minyak kayu putih/aroma theraphy.

Tissue/wet wipes: Jangan mentang-mentang ke luar negeri, negara maju, terus kita berpikir bahwa semua toilet/WC umum di sana bersih ya. Sama sekali enggak. Di luar negeri banyak juga toilet/WC umum kotor yang bau pesing. Selain itu, paper towel di luar negeri nggak sebagus yang dipakai di Indonesia lho. Mereka paper towel-nya terbuat dari kertas daur ulang warna abu-abu dan kasar banget, and all dry toilet. Nggak ada shower. Buat orang Indonesia yang sebagian besar masih terbiasa bersih-bersih dengan cara basah/pakai air, disarankan bawa tissue/wet wipes sendiri setelah memakai toilet/WC umum. 🙂

Mouth mask/masker mulut: Ini penting kalau misalnya tiba-tiba di sana kita tidak bisa langsung beradaptasi dengan iklim setempat, biasanya kita akan terserang flu ringan dadakan. Ini penting banget dipakai supaya kita nggak menulari tetangga kiri-kanan. Selain itu masker mulut ini bisa menjaga agar daerah di seputaran mulut/hidung kita tetap hangat. Kadang kalau nggak tahan dingin ada yang suka mimisan (saya contohnya, haha) so, better safe than sorry. 🙂

Camera: Jangan sampai nyesel kehilangan moment penting pada saat jalan-jalan karena kamera tertinggal di hotel. Pastikan baterai juga terisi penuh. Cek juga setiap saat, terutama saat melalui daerah yang penuh turis, karena dipastikan di sana penuh copet juga. Waspadalah, waspadalah!

Sunnies/kacamata: Untuk menghalau sinar matahari dan bikin kita *ehem* makin keren pastinya.

Passport/ID: Ini jangan sampai ketinggalan, karena jika kita nanti ada urusan penting, tanpa ini kita tidak akan dilayani. Dijaga juga jangan sampai hilang, kalau hilang di luar negeri, ngurusnya lebih ribet lagi nanti.

Gadget: Jangan lupa update selalu ke socmed tentang perjalananmu, share lokasi wisata yang keren, makanan yang enak dll. Make sure your cell phone/tablet fully charged!

Money/uang: Terutama siapkan uang kecil, jangan bawa uang banyak-banyak. Perhitungkan berapa kira-kira pengeluaran dalam satu perjalanan. Uang yang belum terpakai sebaiknya ditinggal di hotel saja, beberapa hotel biasanya dilengkapi dengan brankas kecil, uang/barang berharga lainnya bisa disimpan di sini. ini menolong kita buat nggak boros lho. Atau lebih baik bawa kartu kredit. Kenapa banyak orang Asia yang sering kecopetan di luar negeri? Karena kebiasaan orang Asia suka bawa duit banyak, while orang bule lebih suka bawa kartu kredit.

Make up: Bawa make up yang penting-penting aja, seperti lip balm, bedak, parfum dan sisir. Bawa yang TRAVEL SIZE, biar nggak makan tempat di tas.

DOs: Untuk tas, sebaiknya pilih tas selempang dengan ukuran sedang (kurang lebih seukuran postman bag cukup untuk semua barang-barang di atas). Pakai tas selempang kamu sebelum memakai coat, jadi posisi tas ada di dalam, dan pastikan posisi tas selalu berada di depan kamu. Hindari mengeluarkan gadgets di tempat yang terlalu crowded. Kalau mau update hasil bebancian kamera di sosmed, tunggu sampai kita ada di tempat yang cukup aman. Beware of pickpockets! 😀

DON’Ts: Membawa tas terlalu kecil dan lebih dari  satu, ribet dan nggak efisien.  Usahakan selalu cek currency atau living cost di negara tujuan. Cari tahu beberapa harga barang yang penting, seperti tiket transportasi umum, makanan dll. Jangan membawa uang berlebihan atau memakai barang/perhiasan yang berlebihan/mencolok. Nggak di Indonesia, nggak di luar negeri, di mana-mana. Hal ini selalu mengundang kejahatan.

3. Selanjutnya…ini dia, barang-barang lenongan kita sebagai cewe yang sekiranya wajib di bawa pas bepergian ke negara 4 musim. Sekali lagi, pastikan semua barang-barang di bawah ini adalah yang TRAVEL SIZE. 🙂

tips-traveling-eropa-03

Brush set: Bawa yang isinya 5-7 pcs saja, dan size-nya kecil. Keep everything in TRAVEL SIZE! 😀

Face moisturizer: Bawa face moisturizer yang kadar moisturizer-nya sesuai dengan kebutuhan jenis kulit kamu. Negara 4 musim biasanya kondisi udaranya kering pada saat autum/winter. Untuk kulit kombinasi/berminyak seperti saya sih nggak gitu ada masalah. Malah minyak produksi minyak di wajah berkurang, pori-pori mengecil dan kulit jadi lembab dan normal, nggak ada skin break out sama sekali. Horeee! Tapi tetep perlu pakai moisturizer sih. Dan buat yang punya kulit kering, biasanya abis ngeluyur seharian aja rasanya muka berasajadi kaku, terus besoknya mengelupas, makanya face moisturizer diperlukan banget. 🙂

Body butter/lotion: Fungsinya sama dengan face moisturizer, mencegah kekeringan di kulit tubuh.

Lip balm: Fungsinya masih sama, mencegah kekeringan yang menyebabkan bibir pecah-pecah. Dengan menggunakan lip balm setiap hari, bibir kamu akan selalu lembab. 🙂

Make-up palette: Bawa palette kecil dengan warna-warna “aman” aja, kecuali kalau di sana mau ada photoshoot, atau acara resmi yang mengharuskan dandan heboh. Kalau bisa bawa all-in-one palette. Eyeshadow, blusher, powder jadi satu. 🙂

Hair styling tools: Jika kamu berencana menginap di budget hostel, biasanya mereka nggak menyediakan hair dryer, jadi perlu bawa yang TRAVEL SIZE. Bawa catokan rambut bila perlu. Ada baiknya cari tahu dulu bentuk colokan listrik di negara tujuan seperti apa.

Bobby pins & hair bands: Senjata pamungkas di kala bad hair day, atau untuk menyelamatkan hair-do yang mendadak berantakan saat menghadiri acara penting.

DOs: Pastikan semua peralatan lenongan alias make-up dalam TRAVEL SIZE!

DON’Ts: Jangan bawa peralatan make-up berlebihan, selain makan tempat, peralatan make-up rawan sekali rusak (pecah, atau leleh). Kalau terpaksa harus bawa, taruh di kabin. Sayang kan kalau sudah beli palette mahal-mahal malah pecah/ancur berantakan cuma karena kurang wise packing saat traveling. 😉

Sekian dulu traveling tips kali ini. Sampai jumpa di tips-tips lainnya. Happy packing & traveling, jangan lupa oleh-oleh yaa…Bye! 😀 *lambai-lambai sapu tangan*

Exploring Prague: Tempat Paling Wajib Dikunjungi di Eropa

Ahoj!

37959_1600779574825_5798653_n

Kali ini saya mau cerita pengalaman traveling saya yang pertama kali ke Eropa. Yaitu ke Praha, tepatnya 3 tahun lalu. Saya pergi ke Praha bareng teman-teman dari Airlangga University Choir, kebetulan waktu itu mau mengikuti Praga Cantat choir competition. Sebenernya kami nggak sendirian yang berangkat dari Indonesia, ada juga teman teman dari paduan suara Universitas Padjajaran-Bandung dan BINUS-Jakarta. Rame kaaan? tapi berangkatnya tetep sendiri-sendiri sih, hehehe…

Ceritanya waktu itu yang paling heboh buat preparationnya, bingung pengen beli coat, beli boots, beli earmuff, beli gloves etc…norak ya? Soalnya emang belom pernah punya dan pengalaman pergi ke negara 4 musim…selain itu pengen gaya juga sih hahaha. Jujur aja, seperangkat anget-angetan ini vital banget buat saya, soalnya saya sendiri punya alergi dingin, kadang kalau kedinginan suka tiba-tiba biduran, bruntusan, gatel-gatel. Hiks. So, I really have to keep my body stay warm all the time. Tips-tips traveling untuk first timer ke negara 4 musim bakal saya share di postingan yang terpisah nanti ya…sekarang fokus ke cerita tentang Praha dulu. So, stay tuned! 😉

Sebelum berangkat, saya sempetin buat browsing-browsing tentang Praha, dan dari info-info yang saya dapat, walaupun Ceko ini termasuk Schengen Zone, tapi untuk mata uang mereka belum pakai Euro, masih pakai Crown/Koruna/Czk, yang kurs-nya aje gile murah 1 Czk = Rp. 500. Asikkk, gak bikin kantong bolong. Selain itu, Praha ini terkenal sekali kastil-kastil dan bangunan bernuansa gothic (bukan…bukan Zaskia gotik ya! :p), juga terkenal dengan wine-nya. Katanya sih Praha ini emang penghasil wine terbesar di Eropa lho. Saya buktikan begitu sampai di sana…kulkas kamar hotel saya sendiri sudah terisi bermacam-macam alkohol instead of soft drink, dan wine-nya sendiri ada 4 botol. Woo hoo! !

czech-wine

(left to right: Czech Wine – Czech Wine – London Dry Gin – Findland Vodka – Irish Whisky – Czech Beer – Czech Wine)

74273_1600780694853_4538911_n

(Cheers baby! malam sebelumnya sudah minum sebotol wine juga gratisan dari Emirates. :D)

Beberapa hari pertama di Praha di habiskan untuk fokus ke persiapan kompetisi sih, yah ada jalan-jalan dikit juga…nyobain metro, secara seumur hidup belum pernah naik kereta bawah tanah. Kebetulan 500 meter dari hotel ada subway, nyoba lah saya. Awalnya bingung gimana ini sistem transportasinya, gimana cara beli tiket dari ticket machine, dll. Untungnya, yang namanya selebaran/peta tersedia gratis di mana-mana…di hotel, supermarket, atau di subway itu sendiri. Ini foto saya di depan subway Invalidovna…

praha-invalidovna

Di Praha ini metronya terbagi atas 3 jalur, ada Metro A, Metro B, dan Metro C. Kebetulan Invalidovna ada di jalur Metro B. Intinya kita mesti rajin-rajin lihat peta aja kalau mau pergi ke tempat tertentu, lihat-lihat tempat tujuan kita itu ada di dekat jalur metro yang mana. Contoh, kalau mau pergi ke daerah yang ada Metro A, maka saya harus turun di subway transit dari B ke A untuk ganti kereta. (semua keterangan lengkap ada di peta, jadi mudah dimengerti).

Selama di Praha saya nggak pernah kedapetan metro yang pas sepi, rame terus…nyaris nggak pernah dapet tempat duduk, jadi nggak bisa fotoin gimana bagian dalam metronya. Untuk tiket metro biasanya saya beli yang 24 jam-an 100 Czk, atau Rp. 50.000. Ada beberapa perbedaan tarif untuk manula, hewan peliharaan, dan orang-orang yang bawa wheel chair/sepeda lipat. Tarif khusus tersebut diberlakukan soalnya biasanya yang bawa hewan peliharaan/wheel chair/sepede itu makan tempatnya suka nggak kira-kira. Terutama yang bawa hewan peliharaan, bener-bener makan tempat. PAKE BANGET.  Beberapa kali di Praha nemu orang bawa anjing Siberian Husky gede banget di dalem metro. Gedenya 2x badan saya. Ini anjing beneran apa siluman…apa anjing ngepet…bahahaha! Asli segede Jacob pas jadi serigala, mau duduk di sebelah si anjing tapi malah ngeri sendiri takut dicaplok. Dan beberapa kali liat orang jalan-jalan bawa anjing gede lainnya. Sepertinya orang di Praha suka sama anjing yang gede. Tapi saya sempet foto di dalam metro sekali sih. Kurang lebih interior-nya seperti ini…

metro-praha

Oh iya, subway di Praha ini termasuk dari 7  stasiun bawah tanah terindah di dunia lho…on the spot Trans 7 juga udah pernah nayangin :-P. terutama Metro A. Interiornya bagus dan warna-warni, beda-beda tiap stasiun pokoknya. tapi lagi-lagi rada susah banget diambil fotonya, secara subwaynya crowded terussss…tapi sempet foto sekali di subway Namesti Miru pas sudah hampir jam 9 malam, agak sepi. Pas banget kebetulan Namesti Miru ini subway favorite saya, warna dinding terowongan-nya perpaduan antara biru metalik & gold! Love it! :*

namesti-miru-praha

Soal makanan di Praha saya nggak terlalu rewel sih, selain tetep bergantung kepada makanan pokok orang Indonesia pas traveling, yaitu Pop mie, di Praha juga terdapat restoran masakan Indonesia, namanya Java Restaurant, chef-nya asli orang Jawa, interior-exterior restoran-nya pun bernuansa Jawa yang kental, ada patung-patung, dan seluruh mejanya bertaplak kain batik. Makanannya? jangan ditanya lagi…yummy! Konsep restoran ini buffet atau all-you-can eat. Makananya macem-macem, kebetulan pas saya mampir ke sana ada Soto Ayam, Sate Ayam, Sayur Lodeh, Oseng-oseng, Perkedel Jagung dll. lengkap dengan kerupuk dan sambalnya. Tak lupa, nasi putih pulen. Untuk snack-nya ada lumpia semarang dan pastel. Harganya 160Czk, atau sekitar Rp. 80.000/pax. Mahal? ya nggak sih, malah lebih murah dari restoran Jepang all-you-can eat terkemuka di Indonesia. Lagian harga segitu worthed banget untuk mengobati rasa kangen sama tanah air, dan yang paling penting HALAL! Jadi nggak perlu insecure lagi soal makanan, terutama buat kalian-kalian yang strictly halal food-minded. 🙂 Duh, bodohnya pas di restoran nggak sempet fotoin makanannya pas masih belom dimakan, karena buru-buru pakai numpang ganti kostum segala di sana. Adanya juga ini, foto pas makanannya udah dimakan sama besoknya dapet katering makan yang ternyata menunya dapet dari resto ini…Horeee!

java-restaurant-praha

40151_1606680562346_3628537_n

(Sambel, lalapan mentimun, nasi pulen ditabur bawang goreng, serundeng kelapa…Indonesia banget! P.S: Sendoknya modal abis…bukan sendok bebek/plastik kayak nasi kotak di sini. Boleh diambil. :D)

Besoknya makan makanan Indonesia lagi di KBRI Praha…kali ini rame-rame bareng temen-temen Unpad dan Binus juga. Makanannya banyak, ada rendang…favorite saya, dessert-nya juga enak, dan pastinya gratissss! Kami datang berbatik-batik pula…rasanya udah kayak lagi di kondangan hehe.

Long story short, kami menang kompetisi di 2 kategori, plusss special award untuk choir with The Most Scenic Choreography…2 paduan suara dari Indonesia lainnya juga menang lho. Pokoknya Indonesia membahana deh, semua juara diborong sama Indonesia! Cihuy! 😀 Kebetulan juga waktu itu kita dapat fasilitas mengunjungi beberapa tempat wisata di Praha dari panitia kompetisi, plusss guide-nya juga. Tujuan utama sih Prague Castle, Karluv Most (Charles Bridge) salah satu lokasi syuting film jepang Nodame Cantabile, Old Town Square, dan Astronomical Clock. Tempat-tempat di tersebut free entrance ya (waini yang penting…mental gratisan detected! :-p), alias nggak pakai tiket. Yang pakai tiket palingan kalau masuk-masuk ke museum. Di Praha terdapat banyak museum, termasuk yang unik seperti Barbie museum atau bahkan Sex Machine museum. Ini foto-foto yang diambil dari beberapa tempat yang saya kunjungi…

prague-castle-01148148_1606663281914_2385967_n

76893_1606666882004_4610248_n

(atas: Prague Castle gate, 2 bawah: dalemnya Prague Castle, ternyata dalemnya masih ada gedung-gedung lain, restoran, wine bistro & museum…tapi nggak saya masukin semua, soalnya bayar! Hahaha…palingan nyobain Hot Wine doang…tapi meh, aneh banget rasanya mirip rebusan tape ketan item. -.-“)

karluv-most-01

karluv-most-02

(kedua foto ini diambil di Karluv Most/Charles Bridge tempat syuting film Nodame Cantabile. Di Karluv Most banyak wisatawan, tapi pengemis banyak juga…hahaha :-p Foto patung Yesus disalib diatas kurang tau juga apa ngaruhnya buat orang Ceko, secara di sana sebagian besar penduduknya adalah komunis…dan juga atheis, gereja yang aktif hanya sekitar 25%, 75% persen bangunan gereja lainnya dijadikan obyek wisata! 🙂 )

astronomical-clock-praha

(The Astronomical Clock)

odl-town-square-praha

(Me at Old Town Square…crowded pemirsaaa!)

sex-machine-museum-praha

(bagian dalam Sex Machine museum…isinya? hmmm…bisa dikira-kira dari namanya sendiri lah…hihihi)

barbie-museum-praha

(Barbie museum, isinya Barbie *ya iyalah! menurut eL?* …lokasinya terletak di dalam Prague Castle…selain di Praha, Barbie museum ini juga ada di Munich, Jerman 🙂 )

Sebelum pulang nggak lupa belanja oleh-oleh dulu di pasar tradisional di Mustek. Harga di Praha pokoknya semua murah…kemarin sih budgetnya buat jajan, jalan-jalan, dan oleh-oleh 2-2,5 juta rupiah. Itu pun masih ada kembalian dikit. Terus nih, pas lagi asik-asik belanja eh…ketemu sama musisi kenamaan Indonesia: Om Erwin Gutawa. Kebetulan waktu itu beliau sedang menggarap musik bersama Prague Philarmonic Orchestra. Kalo nggak salah sih buat musikal Laskar Pelangi. Pulangnya ketemu  lagi sama Om Erwin, satu pesawat pula. Acara di pasar malah sempet berubah jadi jumpa fans dadakan, abis semua pada minta foto, hihihi…noraknya teteup! 😀

75085_1608495207711_5963979_n

Kesimpulannya, Praha ini tempat di Eropa yang paling cocok dikunjungi buat first timer dan low budget traveling. Soalnya sampai detik ini saya belom nemu lagi tempat di Eropa yang living cost-nya lebih murah dari Praha. Sampai jumpa di postingan berikutnya yaa…maaf kalau di postingan yang ini fotonya banyak yang nggak penting! Maklum baru pertama ke Eropa, jadi kerjaannya foto melulu…

Ciaoo! 😀

[Review] SYOSS Permanent Coloration Dark Ruby Red 5-89

I received a goodie bag from SYOSS Indonesia after I reviewed their Moisture Intensive Care Shampoo & Conditioner on their Facebook Page. The package came with 1 shoulder bag (looks like Longchamp bag, anyway), 1 SYOSS Moisture Intensive Care Shampoo 400 ml, 1 SYOSS Moisture Intensive Care Conditioner, 1 SYOSS Straight & Shine Glossy Jelly – hair gel (since I’m not a hair gel user, I gave this to my brother :D), and…last but not least, my fave from SYOSS: Permanent Coloration Dark Ruby Red 5-89.

Syoss-goodie-bag

syoss-dark-ruby-red-review

I can’t ever resist Ruby Red, Deep Burgundy, Purple-Red or something looks like Wine color. I tried many brands before, but SYOSS gave me instant lovestruck over its color. The result was intense as well and didn’t leave dryness in my hair after using.

I used this as highlight for my hair, cause I think I will need 1 or 2 more boxes of this, since my hair is very long and thick. Of course I had to bleach my hair before apply this product to my hair, cause this colorant actually more suitable for Medium Blonde-Dark Blonde or Light Brown. My natural hair color is very dark brown so I really really had to bleach it first.

Image

I applied this for my DIY Flame color highlight…the red shade looks very bright and in some parts create ombre red-orange shades, very well blended with my blonde hair after bleaching process. It’s easy to apply cause the box came with applicator bottle and plastic gloves.

Pro: Bright ruby red color & didn’t leave dryness on my hair. Easy to apply with applicator bottle

Cons: Won’t work for natural dark hair. Need bleaching process. If your hair is blonde to light brown, this product might works even better. 🙂

Aaaand…ta daaa! this is my DIY Flame highlight hair… 😀

*I don’t think it’s really good, I’m not an expert in DIY hair, but I love it!*

syoss-dark-ruby-red-review-01

Yang Wajib di Belanda: Foto Pakai Baju Tradisional Belanda | Nggak sempet ke Volendam? Ini solusinya!

dutch-clogs

Yayy! Kesampaian juga akhirnya pake kelompen tradisional Belanda. ternyata enteng banget dipakainya…tapi tetep gak bakal beli, minjem-foto-cukup. Pelit dot com. (Karena sebenernya terlanjur beli boots beberapa hari sebelumnya, jadi beli sepatu stop dulu!)

Dan juga ceritanya hari ini Halloween dan sadly, my last day in Holland. So, Saya hari ini harus memaksimalkan yang namanya exploring Amsterdam, and since I’m maps-illiterate, I asked someone to accompany me exploring Amsterdam. Please welcome, Nindy!

Tujuan pertama hari ini adalah kawasaan Dam Straat, yaitu Madame Tussaud museum, tapi berhubung antrean masuknya udah kayak kerumunan nontonin orang lagi digebukin, saya mengurungkan niat. Jadilah langsung menuju ke plan B, yaitu foto pakai baju tradisional Belanda. Sebenernya ada serombongan teman yang pergi ke Volendam cuma buat foto, tapi buat saya sih efisiensi waktu aja, cari yang deket dan ada diskonnya. Kebetulan hostel tempat kami menginap menyediakan kartu diskon untuk berfoto di tempat ini. Studio fotonya kecil, tersembunyi di balik kerumunan orang-orang yang lagi antre untuk masuk ke Madame Tussaud. Saya dan Nindy melipir-melipir layaknya orang cari alamat…antara ‘ngeuh’ dan nggak ini beneran photo studio apa panti pijet.

Akhirnya kami disapa oleh wanita berambut ikal+pirang, cantik, usianya mungkin 35 tahun maksimal. Ternyata dia fotografernya…hihihi, pertanyaan pertama dari beliau adalah “Are you from Java?” ih…beneran ya muka emang nggak bisa bo’ong. Jawa banget muka saya. Terus dia jelasin kalau studio-nya emang baru aja buka jam segini, dan dia harus beberes beberapa display yang biasa ditaroh di depan studio-nya buat penanda ini beneran studio, biar orang nggak celingak-celinguk cari studio kayak kami berdua.

Setelah nunggu beliau beberes 10 menitan, beliau memandu kami ke lantai 2 tempat kecil itu. Dan ternyata lantai 2 nya luas lho. Koleksi baju-bajunya juga banyak, ada yang modern, ada yang tradisional. Beliau memandu saya untuk sizing baju dan sepatu, buat ukuran bule, saya pakai dress size M, dan sepatu size 38. Akhirnya saya milih baju a la Milkmaid (kostum logo susu kental manis Cap Nona) berwarna merah-putih-biru, karena baju ala Farmer yang biasa berwarna hitam kurang cocok buat saya. Setelah ganti baju, proses foto pun berlangsung. Beliau ngarahin gayanya enak banget, mungkin karena emang udah kerjaannya kali ya haha, santai, lucu, dan detail banget, nggak cuma gaya yang dikoreksi sama beliau, tapi juga lengan baju, rok, sepatu dll harus terlihat bagus di kamera. Kira-kira hasilnya seperti ini…

Image

Image,

Image

(Akhirnya kesampaian pake kostum ginian pagi hari, secara malamnya gak mungkin bisa ikut Halloweenan karena mesti packing buat balik kandang…)

Biaya foto 11.50 euro included: cetak foto 10 R, soft copy file photos all pose, dan sewa kostum. Murah sih! Daripada ke Volendam, gak pake ongkos transport pula, karena pas berangkat ke Dam Straat kedapetan tram yang out of order mesin validasi tiketnya…jadi nggak pake bayar. Hahaha. Sebenernya Saya dan Nindy ditawarin diskon kalo mau foto berdua, sama si fotografernya lho, secara kami ini penglaris, alias klien pertama yang datang hari itu. Tapi si Nindy-nya gak mau. Bersyukur ada klien selanjutnya, jadi sementara si fotografer sibuk memandu klien yang baru datang, si Nindy curi-curi foto dapet minjem kostum Milkmaid a la lollita yang pendek. Aww…sexy! :p

Image

Setelah cabut dari studio foto, saya dan Nindy jalan-jalan menyusuri Dam Square sambil ngabisin duit (dih…sok kaya!) maksudnya ngabisin budget yang tersisa yang memang dialokasikan buat oleh-oleh, ngasi makan burung dara, terus jalan-jalan ke Albertcuypstraat Market, beli keju Gouda daaaaaan…lagi-lagi saya beli boots! Pfff. Modelnya mirip “Ugg”, tapi harganya cuma 2,5 euro. Ini serius. Last stock in store.

Image

(My 2.50 euro “Ugg” boots & 10 euro knitted winter legging from Albertcuypstraat Market)

Tujuan terakhir ubek-ubek Amsterdam hari ini adalah Albert Heijn, beli snack segala macem yang nggak ada di Indo dengan sisa uang yang ada buat oleh-oleh. Sampe hostel hampir jam 7 malam, lanjut packing dan langsung tepar…dilanjut berangkat subuh ke Amsterdam Central dan bertolak ke Schiphol…huhuhu da daaagh Holland! I can’t wait to come back! 😦

Warsaw Trip, My 1st Snow – Pengalaman Salju Pertama di Polandia

Hey, it’s me again! I’m gonna post something short, I promise. I don’t want to make all of you guys bored with my silly stories. Detail tentang apa aja yang bisa ditemukan di Warsawa, living cost, etc, nanti saya tulis di postingan yang terpisah yaa! 😀

Let’s just get straight to the point. Last year, I went to Warsaw for choir competition, and…there was unexpected early snowy day! Wow…I just couldn’t hide my excitement over this. LOL. 

Ceritanya berawal dari ketika saya dan Qutb lagi ngobrol-ngobrol di lobby hotel Aramis Warsawa. Semalam sih receptionist hotel sudah menginfokan mengenai weather forecast buat hari ini, katanya sih turun salju. Nggak mau berharap banyak, saya sih nanggepinnya biasa aja, padahal aslinya pengen banget main salju. Hihihi…maklum seumur hidup belum pernah sama sekali pegang dan lihat salju. Pas lagi asik-asik ngobrol tiba-tiba Qutb memekik “Mbak…mbak…apa itu mbak…di belakangmu…putih putih…” Hah?? apaan ini anak siang bolong mau nakut-nakutin? mana ada kuntilanak/pocong di Poland, huh! “Itu mbak…di rambutmuuuuuuuu…!!” Saya mulai parno, apa di rambut saya ketempelan binatang? tapi muka Qutb kelihatan girang banget, apa sih…saya belum ‘ngeuh’ juga sampe dia teriak “Saljuuuuuuu!!!”. AAAAARRRRGGGHHH! Saya dan Qutb teriak-teriak norak di luar hotel sambil bersusah payah menangkap snow flakes pakai tangan kami.

Image

(Our 1st snow flakes…sumpah, ini bukan ketombe!)

Kegirangan menyambut salju pun bikin kita lupa bahwa hari ini kami harus berkompetisi…buahahaha! Alhasil music director kami gondok abisss…Man, c’mooon…sometimes you need to have fun too! 😛 Meski baru salju pertama, tapi nampaknya salju yang turun cukup tebal, alhasil seluruh Warsawa tertutup salju, termasuk lokasi kompetisi UMFC (Uniwersytet Muzyczny Fryderyka Chopina).

Fryderyk-Chopin-University-01

Image

Tapi rupanya salju justru menjadi penyemangat kami…karena terbukti, kami tampil maksimal dan pulang-pulang membawa ini…taa daaaa! 😀

Image

Image

(Bangga, tetep pakai batik di negeri orang)

Daaaannn…di malam hari dan besoknya kami semakin menggila setelah menang dan tak punya beban, perang bola salju, jilat-jilat salju dan uji nyanyi gegulingan di atas salju tanpa coat tak terhindarkan lagi. Ampuni hamba-hamba mu yang katrok ini Ya Allah…

Image

(My 1st snowball…siapa mau ditimpuk?)

(The White Warsaw: Suasana pagi dari jendela hotel)

Image

Ini pengalaman salju pertamaku, bagaimana dengan kamu? 😀